
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani (Foto: Ist)
Jakarta, Indonesiainfo.id - Pemerintah menargetkan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di 12 kota baru memasuki tahap groundbreaking sebelum akhir 2026.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan, pembangunan PSEL tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong investasi berkelanjutan sekaligus mengatasi persoalan sampah di berbagai daerah.
“Kami yakin akan ada lagi groundbreaking waste-to-energy di 12 kota berbeda sampai akhir tahun ini,” kata Rosan dalam pembukaan Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Selasa.
Rosan menyebut pengembangan PSEL di sejumlah daerah melanjutkan proyek yang sebelumnya telah dimulai di Bali, Bekasi, dan Bogor.
Menurut dia, fasilitas tersebut dirancang dengan mengacu pada standar emisi Eropa. Penerapan standar itu menjadi bagian dari komitmen pemerintah agar investasi di sektor pengelolaan sampah tetap memperhatikan aspek keberlanjutan.
Rosan mengatakan investasi yang masuk ke Indonesia diharapkan tidak hanya memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja berkualitas.
“Kita ingin selalu mempunyai investasi yang masuk ke Indonesia itu adalah investasi yang sustainable, yang berkelanjutan dan berkesinambungan. Tentunya ini adalah investasi yang berkualitas,” ujarnya.
Pengembangan PSEL dilakukan secara bertahap melalui Danantara Indonesia. Tiga proyek pada gelombang pertama, yakni Denpasar Raya, Kota Bekasi, dan Bogor Raya, telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.
Salah satu proyek tersebut adalah PSEL Bogor Raya 1 yang mulai dibangun pada 17 September 2026. Fasilitas ini memiliki kapasitas pengolahan hingga 1.500 ton sampah per hari dengan nilai investasi sekitar Rp2,8 triliun.
PSEL Bogor Raya 1 ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2028 dan diperkirakan dapat menyerap hingga 1.200 tenaga kerja.
Sementara itu, untuk pengembangan tahap kedua, Danantara Investment Management telah memberikan Conditional Letter of Award kepada delapan mitra terpilih untuk mengembangkan fasilitas di delapan lokasi yang mencakup 20 kabupaten/kota.
Studi kelayakan proyek tahap kedua ditargetkan rampung pada pertengahan November 2026. Setelah itu, proyek memasuki tahap persiapan sebelum pembangunan fisik dimulai.
Salah satu proyek dalam tahap kedua adalah PSEL Kayu Manis di Kota Bogor. Pemerintah menargetkan proyek tersebut mulai dibangun pada akhir 2026 setelah studi kelayakan selesai.
Rosan menilai investasi di sektor berkelanjutan semakin penting karena isu lingkungan kini berkaitan langsung dengan pengembangan ekonomi dan industri nasional.
“Bagi Indonesia, keberlanjutan bukan hanya agenda lingkungan. Ini adalah agenda ekonomi, agenda industri, dan agenda investasi,” kata Rosan.
TAGS : Menteri Investasi dan Hilirisasi Kepala BKPM Rosan Roeslani Pembangunan PSEL