BRIN-Kementerian ESDM Kerja Sama Siapkan WIUP dan WPN

Eko Budhiarto| Minggu, 07 Jan 2024 17:57 WIB
BRIN-Kementerian ESDM Kerja Sama Siapkan WIUP dan WPN Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) (Foto: medcom.id)

Jakarta, Indonesiainfo.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjalin kerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kerja sama ini berupa Inventarisasi, Eksplorasi, dan Penyiapan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) dan Wilayah Pencadangan Negara (WPN) Mineral Radioaktif, Logam Tanah Jarang, dan Mineral Lainnya.

Kepala Pusat Riset Teknologi Daur Bahan Bakar Nuklir dan Limbah Radioaktif (PRTDBBNLR) BRIN, Syaiful Bakhri menyampaikan, kemampuan ini bisa disinergikan dengan Kementerian ESDM baik dari sisi sumber daya manusia, dari sisi infrastruktur maupun dari sisi hilirisasi hasil riset.

“Riset yang sudah kita lakukan dalam eksplorasi mineral radioaktif sejauh ini, termasuk penerapan metodologi yang sudah kita kuasai. Wilayah mana yang mengandung uranium, torium, dan mineral ikutan lainnya sebagai mineral strategis. Hal itu bisa kita sampaikan kepada KESDM selaku pihak yang berwenang sebagai walidata mineral, batubara, dan panas bumi,” kata Syaiful dalam keterangannya dikutip Minggu (7/1/24).

Melalui kewenangannya, Syaiful menyebut Kementerian ESDM akan menyiapkan WIUP, dan WPN untuk mineral tertentu, pada wilayah yang potensial memiliki potensi ekonomis.

Baca juga :

Lebih lanjut, Syaiful menuturkan untuk sisi SDM, PRTDBBNLR BRIN memiliki para periset dengan kemampuan di bidang geologi nuklir dan pengolahan mineral radioaktif. Para periset menggunakan teknologi nuklir untuk mengetahui potensi mineral baik uranium, torium, dan mineral lainnya yang berasosiasi dengan mineral radioaktif tersebut. Para periset juga konsen untuk menginventarisasi berbagai sumber daya tersebut yang ada di Indonesia.

“Itulah memang yang menjadi kekuatan SDM periset kita, PRTDBBNLR BRIN sebagai satu-satunya pusat riset yang memiliki kompetensi. Dalam melaksanakan riset di bidang geologi nuklir dan penerapan teknologi nuklir dalam bidang geologi,” ujarnya.

Syaiful menyampaikan, terdapat dua kelompok riset di PRTDBBNLR yang terlibat dalam kerja sama ini. Kelompok Riset (Kelris) Teknologi Geologi Nuklir menggunakan teknologi nuklir untuk mencari uranium dan torium. Kelris ini berusaha untuk menginventarisasi potensi dan sumber daya uranium dan torium di Indonesia, yang juga menghasilkan data potensi dan sumberdaya mineral lainnya.

Sementara itu, Kelris Teknologi Pengolahan Bahan Baku Nuklir akan melakukan penelitian untuk pengembangan di bidang pengolahan uranium, torium dan logam tanah jarang dari berbagai jenis batuan di Indonesia.

“Sejauh ini ada sekitar 89 ribuan ton uranium dan 140 ribuan ton torium yang sudah diinventarisasi potensinya di Indonesia. Bahkan, bukan sekedar uranium dan torium saja yang telah diinventarisasi melainkan LTJ atau rare earth metals termasuk di dalamnya. Inilah data yang sangat penting bagi bangsa Indonesia terutama kementerian ESDM,” kata Syaiful.

Ia menyebutkan berbagai target PRTDBBNLR berupa Karya Tulis Ilmiah (KTI), Publikasi, Paten, dan Lisensi pada 2024, kerja sama tersebut akan dikomunikasikan dengan pusat riset lainnya yang ada di BRIN. Sedangkan untuk pendanaan berasal dari eksternal BRIN yang harus diperoleh dan dikelola.

“Dengan seperti ini kita bersinergi dengan PSDMBP, mengerjakan pekerjaan bersama-sama terkait dengan inventarisasi evaluasi ini. Ada dukungan anggaran dan SDM yang hasilnya nanti akan dihilirisasi sebagai dasar penetapan WIUP dan KDI (Kompensasi Data Ilmiah) pada saat WIUP dilelangkan. Mewujudkan kesiapan data dan neraca mineral secara nasional, sebagai landasan pemerintah dalam mengambil kebijakan pengelolaan mineral di Indonesia,” ujarnya.

Sebagai informasi, logam tanah jarang atau unsur logam langka adalah kumpulan 17 unsur kimia. Di antaranya ada scandium, yttrium, dan golongan lantanida yang penggunaannya sangat dibutuhkan dalam pengembangan industri dan teknologi tinggi. Scandium misalnya digunakan sebagai komponen pesawat terbang dan zat aditif untuk lampu merkuri. Kemudian lantanum sebagai bahan penyusun indeks retraktif tinggi, anti bradar dan elektroda baterai. Selanjutnya, serium sebagai pemoles warna kuning pada kaca dan keramik dan unsur-unsur lainnya yang nilai ekonominya sangat tinggi.

Sementara itu, Kepala Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) Badan Geologi Kementerian ESDM, Agung Pribadi  menyampaikan harapan jalinan kerja sama antara keduanya bisa berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi bangsa indonesia.

“Bukan hanya kepada kedua belah pihak, tapi tentunya bermanfaat untuk bangsa dan negara. Kita berharap dengan adanya PKS ini kedepannya sinergi kita terus semakin baik,” ujarnya.

Agung mengatakan, menyikapi program transisi energi yang terus digalakan oleh pemerintah Indonesia, tentunya PRTDBBNLR dan PSDMBP sebagai sisi hulu yang sangat penting dalam menunjang sumber daya mineralnya. Kedua pihak terus mengembangkan bahan baku penunjang proses transisi energinya.

“Sudah tentu dalam hal ini unsur tanah jarang juga menjadi penting untuk proses transisi energi. Selain penyiapan WIUP dan WPN mineral, PSDMBP-KESDM juga merupakan wali data mineral seluruh Indonesia. Termasuk mineral radioaktif dan mineral strategis, sehingga kerja sama ini juga diharapkan menghasilkan Neraca Mineral dan Batubara. Diharapkan, Neraca Mineral yang sebelumnya belum memuat mineral radioaktif, dapat lebih lengkap sesuai dengan tugas dan amanah yang diberikan,” ujarnya.

TAGS : BRIN Kementerian ESDM Kerja Sama WIUP WPN Nuklir

Terkini