Kemlu Pastikan Tidak Ada Korban WNI dalam Serangan di Yaman

Syafira| Sabtu, 13 Jan 2024 09:13 WIB
Kemlu Pastikan Tidak Ada Korban WNI dalam Serangan di Yaman Kementerian Luar Negeri. (Foto: Kemlu RI)

Jakarta, Indonesiainfo.id - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) melalui KBRI Muscat yang memiliki wilayah kerja di Yaman memastikan, hingga saat ini, tidak ada Warga Negara Indonesia (WNI) yang dilaporkan menjadi korban dalam serangan gabungan Pasukan Amerika Serikat, Inggris dengan dukungan beberapa negara lainnya.

Diketahui, telah terjadi serangan ke beberapa titik di Yaman yang merupakan wilayah-wilayah Houthi beroperasi (12/1), antara lain Sanaa, Hudaidah, Dhammar, Sa`da Hajjah, dan Taiz. 

"KBRI Muscat terus mengikuti perkembangan situasi keamanan di Yaman dan kondisi para WNI. Hingga saat ini, tidak ada WNI yang dilaporkan menjadi korban dalam serangan dimaksud," demikian keterangan Kemlu RI dilansir Sabtu (13/1/24).

KBRI Muscat menyatakan, tercatat 47 WNI berdomisili di wilayah yang mendapat serangan dengan sebaran di Sanaa (15 orang), Hudaidah (19 orang) dan Dhammar (13 orang). Berdasarkan komunikasi dengan para WNI tersebut, mereka dalam keadaan baik dan aman.

Baca juga :

"KBRI akan terus berkoordinasi dengan otoritas setempat dan berkomunikasi dengan komunitas Indonesia untuk memonitor kondisi dan keselamatan para WNI," kata Kemlu dalam keterangan resminya.

Berdasarkan data lapor diri, terdapat sebanyak 4.866 WNI berdomisili di Yaman, mayoritas adalah mahasiswa di Wilayah Tarim Hadhramaut. KBRI Muscat telah mempersiapkan rencana kontingensi jika terjadi eskalasi lebih lanjut.

Sebelumnya, pada tanggal 2 November 2023, KBRI Muscat telah menyampaikan imbauan kepada WNI di Yaman khususnya di Wilayah Sanaa dan sekitarnya untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengimbau dapat berpindah sementara waktu ke Yaman selatan yang lebih aman.

Dalam keadaan darurat, WNI dapat mengontak hotline KBRI Muscat dengan nomor +968 9600 0210 dan hotline Dit. PWNI dengan nomor +62 812-9007-0027

TAGS : Kemlu KBRI Muscat WNI Yaman Amerika Serikat Inggris

Terkini