Menko Perekonomian: Tingkat Inflasi Per September Terkendali di 1,84 Persen

M. Habib Saifullah| Kamis, 17 Okt 2024 09:45 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan, tingkat inflasi di Indonesia masih terkendali di angka 1,84 persen (yoy) Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebut tingkat inflasi di Indonesia masih terkendali (Foto: Dok. Jurnas)

INDONESIAINFO.ID - Dalam sepuluh tahun terakhir, perkembangan inflasi di Indonesia terkendali. Sampai September 2024, tingkat inflasi Indonesia masih berada di level 1,84 persen (yoy) yang bisa dibilang terjaga di kisaran 2,5% persen±1 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto mengatakan, capain tersebut masih menunjukkan pertumbuhan ekonomi, serta tingkat inflasi yang masih rendah dan stabil, terutama setelah pandemi berakhir.

"Core inflation sesuai tren, tapi volatile food diturunkan ke level rendah. Pemerintah rapat setiap minggu, karena kita punya cara berbeda daripada negara lain, untuk mengatur level inflasi di seluruh Indonesia," kata Menko Airlangga dalam keterangannya, dikutip di Jakarta, Kamis (17/10/2024).

Selain itu, Menko Airlangga menambahkan, dalam lima bulan terakhir terjadi fenomena deflasi yang terjadi secara berturut-turut, hal ini juga lebih dipengaruhi oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan.

Baca juga :

"Kita juga kasih insentif fiskal untuk mereka untuk menjaga harga pangan," ujar Menko Perekonomian.

Bahkan berdasarkan proyeksi World Bank, Indonesia diperkirakan akan tumbuh di kisaran 5%-5,2% pada periode 2024-2025 atau kembali ke laju pertumbuhan yang sama atau lebih tinggi seperti sebelum pandemi.

Kemudian, kondisi pasar keuangan Indonesia relatif terjaga stabil. Kinerja nilai tukar Rupiah relatif lebih baik dibanding sejumlah negara di Asia lainnya yakni -1,05% (ytd).

Indeks harga saham Indonesia juga tumbuh positif yaitu 3,94% (ytd) dan sempat mencapai posisi tertinggi atau all-time high pada level 7.905,39 di 19 September 2024 lalu.

"Tidak ada seorang pun yang menyangka Indonesia bisa menjaga nilai Rupiah di bawah Rp16 ribu per 1 USD dibandingkan (persepsi) tiga bulan lalu, dan ini adalah pencapaian bagi tim ekonomi Indonesia," ujar Menko Airlangga.

Dengan berbagai capaian baik tersebut, investor masih melihat Indonesia sebagai negara yang atraktif. Terbaru, Rating and Investment Information, Inc. (R&I) mengafirmasi Sovereign Credit Rating (SCR) Republik Indonesia pada peringkat BBB+, dua tingkat di atas investment grade dengan outlook positif.

Peringkat daya saing Indonesia pun terus mengalami peningkatan ke posisi tertinggi sejak 10 tahun (peringkat ke-27 tahun 2024 berdasarkan IMD World Competitiveness Ranking).

Untuk mengakselerasi pertumbuhan di jangka menengah panjang, pemerintah telah menyiapkan strategi new engine of growth seperti digitalisasi, transisi energi, dan semikonduktor. Selain itu, ketahanan sosial dan pemberdayaan masyarakat juga menjadi prioritas.

Industri perbankan, terutama bank dengan jaringan internasional seperti HSBC berperan penting dalam mendukung upaya mendorong aliran investasi asing ke dalam negeri. Program baik yang telah dilakukan HSBC yaitu menciptakan konektivitas investor dengan pelaku usaha dalam negeri harus terus dijaga.

"Dengan kondisi (konflik di) Timur Tengah dan Rusia-Ukraina membuat semua (perdagangan internasional) menjadi tidak mudah karena saling terkait. Dan juga ini adalah situasi berbeda saat ini, terutama karena ada disrupsi teknologi," kata Menko Airlangga.

"Jadi lebih kompleks sehingga perlu bantuan ‘teman’ untuk navigasi ke masa depan. (Teman itu) Seperti HSBC, jadi saya ingin HSBC bisa ada di Indonesia dalam 140 tahun ke depan juga," ujar dia menambahkan.

TAGS : Airlangga Hartarto Tingkat Inflasi Pertumbuhan Ekonomi Menko Perekonomian

Terkini