
Menko PMK Pratikno memimpin Rapat Koordinasi Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi di Sulawesi Selatan, Kamis (Foto: Kemenko PMK)
Indonesiainfo.id - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan pentingnya mitigasi proaktif dan perubahan pola pikir masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan sebagai langkah pencegahan bencana hidrometeorologi.
Upaya tersebut, lanjutnya dinilai mendesak di tengah meningkatnya frekuensi bencana akibat perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan Pratikno usai memimpin Rapat Koordinasi Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi di Sulawesi Selatan.
“Selain modifikasi cuaca, optimalkan infrastruktur yang sudah ada dan laksanakan apel rutin siaga bencana sehingga dapat mencegah terjadinya bencana hidrometeorologi. Peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitar,” ujar Pratikno dalam siaran pers di laman Kemenko PMK dikutip pada Sabtu (4/1).
Seperti diketahui, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mencatat bahwa curah hujan tinggi akan berlangsung hingga Januari 2025. Kondisi ini memerlukan penguatan sistem pemantauan dini dan kesiapsiagaan untuk merespons bencana.
Pratikno menyoroti bahwa kerusakan lingkungan, seperti deforestasi dan pengelolaan sampah yang buruk, sering menjadi pemicu bencana. Ia mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan melalui edukasi dan pola hidup ramah lingkungan.
“Semuanya harus berperan aktif sesuai dengan kapasitas masing-masing dan saling bahu-membahu demi menciptakan sistem pengelolaan bencana yang tangguh dan berkelanjutan,” kata Pratikno.
Dalam mendukung upaya kesiapsiagaan bencana di Sulawesi Selatan tersebut, BNPB telah menyerahkan bantuan Dana Siap Pakai kepada pemerintah provinsi, kabupaten/kota, serta menetapkan 16 kabupaten/kota berstatus tanggap darurat dan 8 kabupaten/kota berstatus siaga darurat.
TAGS : Kemenko PMK Pratikno Mitigasi Proaktif Bencana Hidrometeorologi