
Staf Khusus Menteri Agama Farid F. Saenong dalam beberapa program di seluruh unitnya termasuk di Direktorat PTKI. Hal tersebut disampaikannya dalam serial Webinar IKRAR PTKI bertajuk Masyarakat, Agama, dan Ekologi: Menuju Pembangunan Berkelanjutan, di Jakarta (Foto: Kemenag)
Indonesiainfo.id - Staf Khusus Menteri Agama Farid F. Saenong meminta Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) agar memberikan perhatian lebih terhadap isu krisis iklim dan pemanasan global. Bahkan ia meminta Civitas academica PTKI untuk berjihad dalam memperbaiki kualitas lingkungan.
Menurutnya, isu lingkungan harus menjadi wacana besar di Kementerian Agama dan harus diterjemahkan ke dalam beberapa program di seluruh unitnya termasuk di Direktorat PTKI. Hal tersebut disampaikannya dalam serial Webinar IKRAR PTKI bertajuk "Masyarakat, Agama, dan Ekologi: Menuju Pembangunan Berkelanjutan" di Jakarta.
“Bukan kemudian untuk meninggalkan isu-isu lain ya, tetapi kita akan menjaga isu lingkungan ini sebagai kepastian global bahwa kita ini sedang berjihad untuk menjaga kualitas alam semesta,” ujar Farid, dikutip dari laman resmi Kemenag, Jumat (14/3).
Lulusan Australian National University tersebut mengungkap sebuah perbandingan korban manusia yang terjadi akibat peperangan dan konflik di beberapa negara seperti peperangan Ukraina dan Rusia serta persoalan di Palestina. Menurutnya, potensi korban manusia akibat perubahan iklim jauh lebih besar apabila tidak di serius diantisipasi.
“Potensi korban manusia yang akan terjadi akibat climate change sangat besar kalau kita tidak hati-hati dalam mengelolanya. Kita akan habis relatif satu generasi kalau kita tidak mengelola climate change ini,” kata Farid.
“Para pakar memandang climate chang atau perubahan iklim yang berlangsung secara radikal dramatis belakangan ini itu bisa menghancurkan atau mengorbankan satu generasi umat manusia,” ujar Farid menambahkan.
Itu artinya kata Farid, itu bukan hal yang main-main, bukan hal kecil yang karenanya Kementerian Agama harus memberikan kontribusi terbaik dengan memberikan tafsir pemahaman akademik ataupun teologis terkait dengan hubungan manusia dengan alam semesta agar keberlangsungan alam semesta bisa terus terjaga.
“Tentu bukan dalam konteks ingin menunda-nunda hari kiamat ya, tetapi climate change ini oleh banyak fighter disebut salahsatu armagenddon atau and off day yang bisa terjadi kalau kita tidak hati-hati mengelola climate chang belakangan ini,” kata Farid.
“Tentu ini tidak mudah, istilahnya tidak seperti membalik telapak tangan atau hanya menghidupakan knop on off gitu kira-kira langsung berubah dan kita bisa selamat tidak, ini adalah kerja jihadi yang sangat panjang yang efeknya pun tidak bisa kita lihat dalam generasi kita,” tambahnya.
Ia melanjutkan, dalam banyak studi climate change belakangan ini baik yang sifatnya dalam tanda kutif sekuler, tidak melibatkan agama ataupun pemuka agama dalam kajian-kajian mereka atau yang secara spesifik lebih cocok dengan kita di PTKIN.
"Ini adalah bagaimana memberikan perspektif yang maju yang progresif tentang hubungan manusia dengan alam semesta,” tutup Farid.
TAGS : Stafsus Menag Perguruan Tinggi Jihad Lingkungan Kementerian Agama