Kurang Etos Kerja, Pekerja Lokal Sulit Bersaing Dengan Tenaga Asing

Vaza Diva Fadhilah Akbar| Sabtu, 17 Mei 2025 11:09 WIB
Rendahnya etos kerja dan kepercayaan diri membuat tenaga kerja lokal kurang diminati, meski industri ingin memberdayakan mereka. Elizabeth Pisciliaruntu, seorang entrepreneur sekaligus pengacara (Foto: Ist)

Jakarta, INDONESIAINFO.ID - Kalangan industri yang akan berinvestasi di Indonesia sebenarnya sangat membutuhkan tenaga kerja lokal. Namun sayangnya, rendahnya kinerja dan etos kerja membuat tenaga asing masih menjadi pilihan utama sejumlah perusahaan.

Hal tersebut disampaikan oleh entrepreneur sekaligus pengacara, Elizabeth Pisciliaruntu, dalam acara diskusi bertajuk Diskusi dan Etos dalam Bekerja, yang digelar di Jakarta, Jumat malam (16/5). Acara ini merupakan inisiatif dari kantor hukum Elizabeth Pisciliaruntu & Partners sebagai bentuk kepedulian terhadap peningkatan daya saing tenaga kerja Indonesia.

Menurut Elizabeth, tenaga kerja lokal seringkali belum menunjukkan performa maksimal di tempat kerja. Ia menilai bahwa salah satu faktor utamanya adalah lemahnya etika kerja.

“Etos kerja seharusnya menjadi pondasi kepercayaan antara pekerja dan perusahaan. Namun ini sering diabaikan,” katanya.

Baca juga :

Elizabeth mengingatkan bahwa pembangunan visi Indonesia Emas 2045 membutuhkan kesiapan sumber daya manusia yang unggul. Jika tidak segera dibenahi, ia khawatir dominasi tenaga kerja asing akan terus meningkat. 

“Membangun kesadaran itu sulit. Tapi kalau tidak dimulai sekarang, kita akan kalah bersaing,” tegasnya.

Dalam forum diskusi tersebut, Elizabeth juga mengungkapkan hasil pembicaraannya dengan beberapa perusahaan. Ia menyebut banyak pengusaha yang bersedia memberikan upah layak asalkan tenaga kerja lokal mampu memenuhi target dan efisiensi kerja. 

Sayangnya, masih banyak pekerja yang bekerja lamban sehingga satu posisi yang seharusnya diisi satu orang harus dikerjakan dua orang. “Ini tentu menambah beban biaya perusahaan,” ujarnya.

Tak hanya soal kinerja, Elizabeth menyoroti adanya kecenderungan pekerja lokal bekerja asal-asalan karena merasa aman sebagai warga sekitar. Ia juga menyebut adanya rasa kurang percaya diri di kalangan pekerja karena takut diawasi atau terkena PHK.

Di sisi lain, regulasi ketenagakerjaan yang berbelit dan praktik rekrutmen yang mengandalkan koneksi orang dalam turut menjadi hambatan.

“Masih banyak masyarakat mengeluh bahwa syarat kerja tidak jelas atau informasi tidak merata,” kata Elizabeth.

Kepada para calon tenaga kerja yang hadir dalam diskusi itu, Elizabeth berpesan agar tidak terjebak pada mitos soal usia atau koneksi. Ia mendorong mereka untuk terus belajar dan meningkatkan keterampilan, terutama menghadapi era otomatisasi. 

“Semua sudah tergantikan mesin. Yang penting kita terus belajar dan menyesuaikan diri,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pola pikir bahwa tempat kerja adalah ruang pembelajaran. Selain meningkatkan kompetensi teknis, pekerja juga dituntut untuk mampu berkomunikasi, beradaptasi, menyelesaikan konflik, dan bekerja dalam tim. 

“Kalau semua itu dibentuk, gaji itu akan datang sebagai bonus,” pungkasnya.

Elizabeth berharap tenaga kerja lokal segera membenahi etos kerja agar mampu bersaing di dunia kerja yang semakin kompetitif dan tidak terus-menerus tertinggal dari tenaga asing. 

“Kalau tenaga kerja kita unggul, investor akan merasa nyaman. Industri pun akan lebih peduli pada kesejahteraan karyawan,” tutupnya.

TAGS : Industri Pekerja Lokal Elizabeth Pisciliaruntu Etos Kerja

Terkini