Pertamina Diapresiasi Menaker Sebagai Teladan Hubungan Kerja Era Modern

Vaza Diva Fadhilah Akbar| Senin, 19 Mei 2025 18:13 WIB
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, turut hadir dalam acara penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) IX antara PT Pertamina (Persero) dan Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) untuk masa kerja 2025–2027. Menaker Yassierli (Foto Ist)

Jakarta, INDONESIAINFO.ID - Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, turut hadir dalam acara penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) IX antara PT Pertamina (Persero) dan Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) untuk masa kerja 2025–2027. Acara tersebut berlangsung di Jakarta Pusat pada Senin (19/5).

Dalam sambutannya, Menaker Yassierli mengapresiasi tercapainya kesepakatan antara manajemen dan serikat pekerja. Ia mendorong Pertamina agar menjadi contoh bagi perusahaan lain, baik dari sektor BUMN maupun swasta, dalam membangun hubungan industrial yang sehat, solid, dan berorientasi masa depan.

Menurut Yassierli, keberhasilan PKB IX ini mencerminkan keberhasilan komunikasi dua arah dan dialog sosial yang berjalan secara produktif. 

“Ini menunjukkan kematangan dalam menjalin hubungan kerja antara perusahaan dan serikat pekerja,” ujarnya.

Baca juga :

“Saya berharap Pertamina dapat menjadi contoh bagaimana hubungan industrial Pancasila diwujudkan melalui dialog, musyawarah, dan kolaborasi antara serikat pekerja dan manajemen. Ini menjadi kunci kemajuan perusahaan di masa depan,” ujar Menaker.

Menaker menambahkan bahwa ke depan, Pertamina harus tampil sebagai garda terdepan dalam pengembangan SDM unggul. Ia menekankan pentingnya Pertamina menjadi pusat keunggulan (center of excellence) dan magnet bagi para pakar serta pelaku praktek terbaik (best practices) di bidang ketenagakerjaan.

Menurut Menaker, Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam hal produktivitas tenaga kerja. Selama dua dekade terakhir, produktivitas Indonesia stagnan di angka 10 persen dan masih di bawah rata-rata negara ASEAN. Padahal, untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, produktivitas nasional harus ditingkatkan hingga 1,7 kali lipat.

“PR besar bagi Pertamina adalah menjadi lokomotif peningkatan produktivitas nasional. Ini harus menjadi tujuan bersama," ucapnya.

Menaker juga mengutip sebuah riset yang menyatakan bahwa 50 persen dari skill set yang ada saat ini akan tidak relevan dalam 10 tahun mendatang. Namun, banyak waktu justru masih dihabiskan untuk menghadapi tantangan-tantangan lama, sementara kesiapan menghadapi future jobs belum optimal.

"Yang mengkhawatirkan adalah jika kita meninggalkan pekerja kita tanpa bekal keterampilan yang relevan. Saat itu terjadi, justru tenaga kerja asing yang siap mengambil peran,” katanya.

Menaker juga mengajak serikat pekerja untuk bergerak lebih jauh dari sekadar memperjuangkan isu-isu normatif. Ia mengacu pada teori motivasi Herzberg yang membagi faktor kerja menjadi dua dimensi: hygiene factors (faktor higienis) seperti upah dan lingkungan kerja yang sudah banyak dicapai, dan motivating factors (faktor motivasi) yang mendorong pekerja untuk memberi kontribusi terbaik.

“Motivating factors ini hanya bisa tumbuh melalui kolaborasi yang sehat antara manajemen dan serikat pekerja. Dan kunci dari semuanya adalah penguatan SDM,” ucapnya.

TAGS : Menaker Yassierli PKB IX PT Pertamina FSPPB

Terkini