Ketua YDDR: Kemerdekaan Sejati Itu Bebas dari Kemiskinan

Vaza Diva Fadhilah Akbar| Rabu, 13 Agu 2025 11:37 WIB
Dalam semangat memperingati 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Dompet Dhuafa menginisiasi sebuah gerakan kebangsaan melalui Sarasehan Tokoh Bangsa yang mengangkat tema Ketua Pengurus YDDR, Ahmad Juwaini saat memberikan sambutan acara Sarasehan Tokoh Bangsa di Jakarta (Foto: Indonesiainfo.id)

Jakarta, Indonesiainfo.id - Dalam semangat memperingati 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Dompet Dhuafa menginisiasi sebuah gerakan kebangsaan melalui Sarasehan Tokoh Bangsa yang mengangkat tema "Merajut Kebersamaan, Mewujudkan Merdeka dari Kemiskinan". Acara ini digelar pada Rabu (13/8) di Jakarta.

Sarasehan ini tak hanya menjadi ajang refleksi sejarah kemerdekaan, namun juga wadah kolaborasi lintas sektor yang dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, di antaranya Said Aqil Siradj (Ketua PBNU 2010-2021), Muhammad Zaitun Rasmin (Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI), Rahmat Hidayat (Sekjen Dewan Masjid Indonesia), Yudi Latif (Aktivis dan Cendekiawan), Bambang Widjojanto (Aktivis Hukum dan Demokrasi), Ahmad Juwaini (Ketua Pengurus YDDR) dan Parni Hadi (Inisiator dan Ketua Pembina YDDR).

Indonesia saat ini masih dihadapkan pada tantangan besar, yaitu kemiskinan yang membelenggu jutaan warganya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025, tercatat 23,85 juta jiwa hidup dalam kemiskinan, dan 2,38 juta jiwa di antaranya berada dalam kategori kemiskinan ekstrem, sebuah ironi bagi negara yang dijuluki paling dermawan di dunia oleh Charities Aid Foundation (CAF).

Ahmad Juwaini, Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, menekankan pentingnya momentum ini sebagai titik balik kolaborasi.

Baca juga :

"Kita ingin mempertegas bahwa kemerdekaan sejati adalah saat seluruh rakyat terbebas dari belenggu kemiskinan. Melalui forum ini, kami berharap lahir komitmen bersama untuk mempercepat pengentasan kemiskinan secara sistemik dan berkelanjutan dan juga peran filantropi," ujarnya.

Sebagai lembaga filantropi Islam yang telah berkiprah selama 32 tahun, Dompet Dhuafa melihat pentingnya sinergi strategis antara sektor pemerintah, masyarakat sipil, lembaga keagamaan, hingga korporasi.

Hal ini didukung data positif penghimpunan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan (ZIS-DSKL) yang mencapai Rp40,509 triliun secara nasional pada 2024 mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 25,3%.

Rahmat Hidayat, Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia, turut menyampaikan urgensi optimalisasi jaringan masjid di seluruh Indonesia.

"Di Indonesia, terdapat lebih dari 800 ribu masjid yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Jaringan masjid yang luas merupakan aset berharga untuk menjangkau masyarakat di berbagai daerah, baik di perkotaan maupun pedesaan. Dengan merajut kebersamaan, masjid dapat menjadi pusat peradaban, sarana meningkatkan kompetensi umat baik hard skill maupun soft skill, serta mereka menjadi berdaya dan terbebas dari kemiskinan," jelasnya.

Acara ini dikemas dalam format talkshow dan diskusi terbuka yang sarat nilai reflektif namun tetap hangat.

Puncaknya ditandai dengan peluncuran dua buku: “Catur Windu Dompet Dhuafa” dan “Senyum Nabi”, sebagai dokumentasi perjalanan dan semangat keteladanan.

Tak hanya itu, forum ini juga melahirkan sebuah pernyataan sikap bersama: 

“Kemerdekaan dari Kemiskinan”, sebuah ajakan konkret menuju Indonesia yang lebih adil dan berdaya.

Dompet Dhuafa sendiri terus berkomitmen melayani pemberdayaan masyarakat melalui lima pilar utama, yakni pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial-kebencanaan, serta dakwah dan budaya. 

Berlandaskan prinsip tata kelola organisasi yang baik (GCG), lembaga ini menjalankan seluruh programnya dengan menjunjung tinggi transparansi, akuntabilitas, serta kepatuhan terhadap regulasi dan syariat.

"Kami mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan filantropi bukan hanya aksi sosial, tapi juga gerakan perubahan yang mengangkat martabat bangsa," pungkas Ahmad.

TAGS : Sarasehan Tokoh Bangsa Kemiskinan Kemerdekaan RI

Terkini