Menag Libatkan Penyuluh Agama dalam Sosialisasi TBC

Vaza Diva Fadhilah Akbar| Jum'at, 26 Sep 2025 11:30 WIB
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya mengoptimalkan peran penyuluh agama sebagai mitra strategis dalam program sosialisasi penanggulangan Tuberkulosis (TBC). Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar (Foto: kemenag)

Jakarta, Indonesiainfo.id - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya mengoptimalkan peran penyuluh agama sebagai mitra strategis dalam program sosialisasi penanggulangan Tuberkulosis (TBC).

Hal itu ia sampaikan dalam Rapat Tingkat Menteri (RTM) yang berlangsung di kantor Kemenko PMK, Jakarta, Kamis (25/9/2025).

Rapat tersebut dipimpin langsung Menko PMK Pratikno dan turut dihadiri sejumlah pejabat tinggi, antara lain Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, serta perwakilan Kementerian Kabinet Merah Putih.

Nasaruddin menyebut jaringan Kementerian Agama sangat potensial untuk mendukung upaya pencegahan TBC.

Baca juga :

"Potensi yang dimiliki Kemenag luar biasa, apalagi kita berkolaborasi dengan 28.479 penyuluh agama, itu baru penyuluh agama Islam, belum penyuluh agama lain," katanya.

Ia menambahkan penyuluh hingga tenaga dakwah bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi kesehatan ke masyarakat.

"Itu bisa kita titipkan buku saku yang berisi penjelasan tentang TBC, termasuk juga cara penanggulangannya. 12.500 majelis ta’lim, ratusan ribu masjid dan surau. Semua itu bisa kita manfaatkan untuk sosialisasi. Kemudian ada tenaga dakwah profesional sebanyak 1.669 yang dikirim sampai ke pelosok-pelosok desa,” lanjutnya.

Dalam rapat itu, ia juga mendorong agar dibuat buku panduan berbasis nilai agama untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya kebersihan dan kesehatan.

“Perlu kita menulis buku bersama, tentang bagaimana agama menganjurkan kebersihan,” ujarnya. Namun, Menag tak menutup mata pada hambatan yang ada.

“Kita sering berbenturan antara bahasa agama dan bahasa kesehatan. Perlu penjelasan yang lebih clear. Inilah tantangan kami di Kementerian Agama bagaimana memberikan pemahaman agama secara komprehensif dan mendalam," ungkapnya.

Untuk menjawab tantangan itu, pihaknya menyiapkan pelatihan bagi para kepala KUA serta penyuluh agama.

"Kami juga melakukan training kepada kepala kantor KUA, penyuluh-penyuluh agama supaya memberikan informasi yang benar,” tambahnya.

Lebih jauh, ia menilai khutbah di masjid bisa menjadi sarana efektif untuk menyampaikan pesan kesehatan.

“Kita bisa membuat semacam khutbah seragam di 800.000 masjid mengenai penanggulangan TBC dirilis di televisi-televisi,” jelasnya.

Selain TBC, Nasaruddin juga mengingatkan agar strategi serupa diterapkan dalam menghadapi masalah kesehatan dan sosial lainnya.

“Saya kira bukan hanya TBC tapi masih ada penyakit sosial yang lain yang bisa kita jangkau sekaligus,” tandasnya.

Menutup rapat, Menko PMK Pratikno mengapresiasi kolaborasi lintas kementerian.

"Ini adalah RTM paling solid yang pernah saya rasakan, semua ingin berkontribusi dan sudah sangat serius," kata Pratikno.

TAGS : Kemenag Nasaruddin Umar TBC Peyuluhan Program

Terkini