Tuntutan Buruh di May Day 2025, Isu Lama yang Terus Diulang

Vaza Diva Fadhilah Akbar| Kamis, 01 Mei 2025 20:40 WIB
Ribuan massa dari berbagai elemen buruh, mahasiswa, tani, dan komunitas masyarakat adat turun ke jalan memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day 2025. Aksi demo yang terjadi didepan Gedung DPR, Jakarta Pusat pada peringatan hari Buruh Internasional (Foto: Ist)

INDONESIAINFO.ID - Ribuan massa dari berbagai elemen buruh, mahasiswa, tani, dan komunitas masyarakat adat turun ke jalan memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day 2025. Aksi ini digelar oleh Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) di Jakarta salah satunya di depan Gedung DPR, pada Kamis (1/5), dengan membawa sederet tuntutan dan kritik keras terhadap pemerintah serta sistem kapitalisme global.

Dalam orasi yang disampaikan oleh Sekjen GSBI Emelia Yanti MD Siahaan, massa menyampaikan salam hormat kepada seluruh kaum buruh, termasuk pengemudi ojek online, pekerja rumah tangga, dan sektor pekerja informal lainnya. Mereka menegaskan bahwa peringatan Hari Buruh bukan sekadar perayaan, melainkan momentum refleksi terhadap perjuangan kelas pekerja di masa lalu yang memperjuangkan hak kerja layak seperti delapan jam kerja, upah adil, dan perlindungan sosial.

"Delapan jam kerja bukanlah hadiah dari penguasa, tapi hasil perjuangan keras kaum buruh di masa lalu. Kini perjuangan itu harus kita lanjutkan karena kondisi buruh hari ini tidak jauh berbeda dari ratusan tahun lalu," kata Emelia.

Para demonstran juga menyoroti dampak kebijakan ekonomi global terhadap kehidupan buruh, termasuk kebijakan tarif Amerika Serikat yang dinilai memindahkan beban krisis ke negara-negara berkembang seperti Indonesia. GSBI mengecam kebijakan neoliberal yang dianggap hanya menguntungkan kapital asing dan memperberat beban kelas pekerja.

Baca juga :

Dalam aksinya, GSBI menyampaikan 20 tuntutan utama, antara lain:

  1. Batalkan semua perjanjian ekonomi yang timpang dan menguntungkan imperialisme.
  2. Hentikan segala bentuk represi dan kriminalisasi terhadap buruh dan rakyat.
  3. Tolak perang imperialisme dan hentikan kekerasan militer global.
  4. Bangun industri nasional berbasis pertanian rakyat.
  5. Cabut UU Cipta Kerja dan seluruh turunannya.
  6. Naikkan upah buruh dan turunkan harga kebutuhan pokok.
  7. Hapus sistem kerja kontrak dan outsourcing.
  8. Wujudkan jaminan sosial sejati.
  9. Alihkan dana BPJS Ketenagakerjaan untuk pembangunan nasional.
  10. Sahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.
  11. Ciptakan lapangan kerja seluas-luasnya.
  12. Jamin transisi energi yang adil bagi buruh.
  13. Hentikan ekspansi perkebunan dan tambang skala besar.
  14. Lindungi buruh migran dari praktik penipuan dan utang.
  15. Akui status kerja pengemudi aplikasi digital.
  16. Hentikan proyek strategis nasional yang merampas tanah rakyat.
  17. Akhiri kekerasan seksual dan ratifikasi Konvensi ILO 190.
  18. Terapkan cuti hamil enam bulan bagi buruh perempuan dan pasangan.
  19. Lindungi buruh perkebunan sawit dengan UU khusus.
  20. Laksanakan reforma agraria sejati dan wujudkan kedaulatan pangan.

Aksi berjalan damai dan diwarnai semangat solidaritas antar kelompok. Massa menyatakan bahwa peringatan May Day akan terus menjadi momen penting untuk memperjuangkan keadilan sosial, kesejahteraan buruh, dan kedaulatan rakyat.

"Kami tidak akan diam. Kritik adalah hak kami yang dijamin konstitusi. Selama pemerintah masih mengabaikan suara buruh, kami akan terus bersuara dan melawan," ujar Sekjen GSBI.

TAGS : Aksi May Day 2025 Buruh GSBI

Terkini