Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) melakukan pendampingan psikososial bagi Anak dalam Situasi Darurat pasca terjadinya bentrokan di Pulau Rempang, Batam, Kepulauan Riau. (Foto: Kementerian PPPA)
Jakarta, Indonesiainfo.id - Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) melakukan pendampingan psikososial bagi Anak dalam Situasi Darurat pasca terjadinya bentrokan di Pulau Rempang, Batam, Kepulauan Riau.
Plt. Asdep Pelayanan Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus Kemen PPPA, Atwirlany Ritonga mengatakan, pendampingan tersebut merupakan salah satu upaya perlindungan khusus anak, dalam hal penguatan dan edukasi terkait regulasi emosi untuk mencegah terjadinya dampak psikologis lanjutan yang traumatik pada anak.
“Terlebih, peristiwa bentrokan yang terjadi pada 7 September 2023 silam cukup meninggalkan luka yang mendalam bagi anak-anak di Pulau Rempang yang terdampak langsung dan mereka sulit melupakan peristiwa tersebut,” ujar Atwirlany dalam keterangannya dikutip dari laman Kementerian PPPA pada Sabtu (14/10/23).
Atwirlany mengemukakan, pendampingan psikososial kepada 345 anak di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 22 Batam itu, dimulai dengan screening kondisi psikologis peserta anak-anak menggunakan instrumen self-report yang dilanjutkan dengan diskusi terkait regulasi emosi.
Selama sesi pendampingan psikososial di selenggarakan, secara umum ditemukan bahwa anak-anak masih cukup teringat akan peristiwa bentrokan pada 7 September 2023 silam. Namun, mereka sudah mampu untuk melaksanakan aktivitas belajar mengajar di sekolah seperti semula.
"Meskipun begitu, anak-anak masih tetap perlu didampingi oleh orang dewasa di sekitarnya khususnya untuk mencegah dampak negatif berkelanjutan dari peristiwa bentrokan dimaksud, karena beberapa anak juga mulai menunjukkan kekhawatiran terkait relokasi sebagai buntut dari bentrokan yang terjadi,” jelas Atwirlany.
Lebih lanjut, Atwirlany mengungkapkan, pendampingan psikososial tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak semata, tetapi juga bagi para guru agar mereka mampu membantu dan membimbing anak-anak dalam mengelola emosi yang dirasakan khususnya pasca terjadinya peristiwa bentrokan.
Kemen PPPA yang didampingi oleh Dinas Pendidikan Kota Batam pun menyelenggarakan dialog dan diskusi terkait kondisi para siswa bersama Kepala Sekolah dan para Guru SMPN 22 Batam. Dialog dan diskusi tersebut pun melibatkan Kepala Sekolah dan perwakilan Guru dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) 24 Galang yang juga turut terdampak oleh peristiwa bentrokan silam.
“Berdasarkan hasil pengamatan sehari-hari yang dilakukan oleh para Guru di sekolah, saat ini anak-anak cenderung lebih khawatir terkait rencana relokasi mereka. Hal tersebut mulai timbul sebagai dampak dari respon keluarga terdekat anak terkait rencana relokasi yang kerap dibahas dan dibicarakan,"tutur Atwirlany
"Oleh karena itu, anak-anak perlu dialihkan fokusnya kepada hal-hal yang positif dan membangun lainnya seperti ekstrakulikuler di bidang olah raga atau kesenian, organisasi anak seperti Forum Anak, dan lainnya. Dengan demikian, anak-anak diharapkan dapat lebih berfokus pada hal-hal yang dapat mengembangkan dirinya terlepas dari adanya konflik dan bentrokan yang terjadi,” imbuh dia.
Sebagai informasi, pada kesempatan tersebut, Kemenenterian PPPA menyerahkan bantuan spesifik anak kepada 345 anak yang mengikuti kegiatan pendampingan psikososial buntut dari peristiwa bentrokan antara aparat gabungan dan warga.