• EKSEKUTIF

Kinerja Industri Manufaktur RI Menguat di Tengah Resesi Global

Syafira | Jum'at, 01 Mar 2024 12:03 WIB
Kinerja Industri Manufaktur RI Menguat di Tengah Resesi Global Ilustrasi, Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenprin) RI

Jakarta, Indonesiainfo.id - Kementerian Perindustrian (Kemnperin) mencatat, di tengah situasi global yang belum stabil, perekonomian Indonesia masih tetap tumbuh dan tampak terkendali, termasuk sektor industri manufaktur.

"Rata-rata pertumbuhan PDB industri manufaktur Indonesia mencapai 3,44 persen (2014-2022), lebih tinggi dari pertumbuhan dunia maupun OECD (data world bank), dengan kontribusi mencapai 19,9 persen. Nilai Manufacturing Value Added Indonesia tahun 2021 yang mencapai USD288 miliar (data UNStats), menunjukkan Indonesia merupakan salah satu power house manufaktur dunia," kata Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif dilansir Jumat (1/3/24).

Febri menuturkan, ekspor produk Industri nonmigas menyumbang 72,24 persen ekspor Indonesia (tahun 2023). Penyerapan tenaga kerja hingga 19,29 juta orang (naik 23,5 persen dibandingkan 2014), dan investasi sektor industri yang mencapai Rp3.031,85 triliun selama satu dekade menunjukkan bahwa industri manufaktur tetap kuat dalam menghadapi resesi global saat ini.

Sementara itu, Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur menunjukkan selama 29 (dua puluh sembilan) bulan berturut-turut Indonesia mengalami ekspansi. Hal serupa juga ditunjukkan oleh Indeks Kepercayaan Industri sejak dirilis November 2022 hingga Februari 2024 ini.

"Kondisi umum kegiatan usaha di bulan Februari 2024 lebih baik dibanding bulan Januari 2024. Hal ini dilihat dari persentase responden yang menjawab kondisi usahanya meningkat naik dari 30,1% menjadi 31,7%, atau responden yang menjawab meningkat dan stabil naik dari 76,4% menjadi 76,8%. Demikian juga dengan optimisme pelaku usaha 6 (enam) bulan ke depan juga sangat baik, naik lagi dari 67,6% pada Januari 2024 menjadi 71,0% di Februari. Level pesimisme juga turun, dari 10,6% di bulan sebelumnya menjadi hanya 7,9%. Nilai ini menunjukan persepsi terbaik sejak IKI dirilis," ujarnya.

Jumlah subsektor industri yang mengalami ekspansi menjadi 17 subsektor dengan kontribusi terhadap PDB triwulan IV - 2023 sebesar 87,91%. Nilai IKI terbesar atau ekspansi terbesar masih dialami oleh industri minuman, disusul oleh subsektor industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, industri makanan, industri barang galian bukan logam, dan industri farmasi, obat kimia dan tradisional.

Apabila dilihat dari variabel pembentuk IKI, lanjut Febri, peningkatan nilai IKI berasal dari peningkatan variabel persediaan produk (3,48 poin) dan pesanan baru (0,97 poin). Adapun variabel produksi mengalami penurunan hingga pada 50,45 (turun 3,23 poin), meskipun masih pada level ekspansi. Kondisi ini menggambarkan bahwa industri pengolahan nonmigas pada bulan Februari masih menghabiskan hasil produksi periode sebelumnya.

Lebih lanjut, Febri menjelaskan beberapa subsektor yang mengalami penurunan produksi yang signifikan yaitu subsektor industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, industri minuman, industri pengolahan tembakau, industri karet, barang karet dan plastik, industri makanan, industri barang logam bukan mesin, industri pakaian jadi, industri kendaraan bermotor, trailer, industri farmasi, obat kimia dan tradisional, dan seterusnya.

“Penurunan aktivitas produksi ini mengakibatkan penurunan jumlah tenaga kerja industri. Secara umum, faktor dominan yang menyebabkan pelaku usaha menurunkan produksinya adalah penurunan pesanan, tingkat ketersediaan produk, ketersediaan bahan baku/penolong, dan faktor musiman," jelasnya.

Penurunan nilai IKI terbesar dialami oleh industri alat angkutan lainnya sebesar 5,15 poin, yang mengubah level ekspansinya menjadi kontraksi. Beberapa faktor dominan yang menyebabkan nilai IKI subsektor ini turun yaitu penurunan pesanan domestik dan luar negeri, masih banyak persediaan produk, ketersediaan bahan baku, dan faktor musiman.

Enam subsektor mengalami nilai IKI kontraksi secara berurutan dari yang terendah, yaitu industri komputer, barang elektronik dan optik, industri peralatan listrik, industri tekstil, industri pengolahan lainnya, industri kayu, barang kayu dan gabus, dan industri alat angkutan lainnya.