• EKSEKUTIF

ESDM Minta Bangunan di Jabar Selatan Pakai Konstruksi Tahan Gempa

Eko Budhiarto | Minggu, 28 Apr 2024 12:59 WIB
ESDM Minta Bangunan di Jabar Selatan Pakai Konstruksi Tahan Gempa Badan Geologi: Gempa M6,2 Barat Daya Garut Tidak Picu Tsunam dan Likuifaksi. (Foto: ESDM)

Jakarta, Indonesiainfo.id - Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Muhammad Wafid, menyebut wilayah di daerah pesisir Jawa Barat Selatan tergolong rawan gempa bumi dan tsunami. Karenanya, perlu peningkatan upaya mitigasi, baik secara struktural dan non struktural.

"Bangunan di daerah Jawa Barat Selatan harus dibangun menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi guna menghindari dari risiko kerusakan dengan dilengkapi dengan jalur dan tempat evakuasi," ujar Wafid dalam keterangan resminya, Minggu (28/4).

Hal tersebut Wafid sampaikan menyusul adanya informasi terkait terjadinya gempa bumi dengan magnitudo M6,2 pada kedalaman 70 km Barat Daya Garut pada Sabtu (27/4/24) malam, sebagaimana diinformasikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kendati demikian, Wafid mengatakan, pihaknya memperkirakan bahwa gempa yang berpusat di kedalaman 70 km Barat Daya Garut itu, tidak berpotensi memicu terjadinya gelombang tsunami dan bahaya ikutan (collateral hazard) baik berupa retakan tanah, penurunan tanah, gerakan tanah maupun likuefaksi.

"BMKG kemarin menginformasikan telah terjadi gempa bumi dengan magnitudo M6,2 di kedalaman 70 km Barat Daya Garut. Gempa berpusat di Samudera Hindia pada koordinat 107,26 BT dan 8,42 LS, berjarak sekitar 151,7 km barat daya Kota Garut, Provinsi Jawa Barat," ujanya.

Lebih lanjut, Wafid mengatakan, lokasi pusat gempa bumi terletak di laut pada kedalaman menengah sehingga guncangan terasa pada daerah cukup luas di Jawa Barat.

"Morfologi wilayah pesisir Jawa Barat selatan umumnya berupa dataran pantai yang berbatasan dengan morfologi perbukitan bergelombang hingga perbukitan terjal pada bagian utara," katanya.

Wafid menerangkan, kejadian gempa bumi ini diakibatkan oleh aktivitas penunjaman/ subduksi atau dapat disebut juga gempa bumi intraslab dengan mekanisme sesar naik.

Hal itu, berdasarkan posisi lokasi pusat gempa bumi, kedalaman, dan data mekanisme sumber dari BMKG, USGS Amerika Serikat dan GFZ Jerman.

"Menurut catatan Badan Geologi, sumber gempa bumi intraslab di Jawa Barat Selatan ini telah beberapa kali mengakibatkan terjadinya bencana, yaitu tahun 1979, 2007, 2017, 2022, dan 2023," kata Wafid.

Badan Geologi pun mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, mengikuti arahan/ informasi dari petugas BPBD setempat, tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.

Meski kejadian gempa bumi ini diperkirakan tidak berpotensi mengakibatkan terjadinya bahaya ikutan (collateral hazard) berupa retakan tanah, penurunan tanah, gerakan tanah dan likuefaksi.