• EKSEKUTIF

Menteri ESDM: Transisi Energi Perlu Kolaborasi

M. Habib Saifullah | Sabtu, 25 Mei 2024 11:37 WIB
Menteri ESDM: Transisi Energi Perlu Kolaborasi Menteri ESDM, Arifin Tasrif mengatakan perlu kolaborasi untuk mencapai transisi energi (Foto: ESDM)

INDONESIAINFO.ID - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, untuk mencapai tujuan transisi energi dan mencapai Net Zero Emission (NZE) diperlukan kolaborasi antara negara maju, berkembang, dan tidak berkembang.

"Kerja sama antar negara maju, berkembang dan tidak berkembang harus diperkuat untuk saling mengisi kesenjangan, supaya no one left behind," kata Menteri Arifin dalam lawatannya ke Tokyo, Jepang, Jumat (24/5/2024).

Indonesia menargetkan mengurangi emisi dari Gas Rumah Kaca (GRK) dan mencapai NZE pada 2060 atau 2070-an, hal ini berdasarkan kondisi dan kemampuan nasional dari Indonesia.

"Indonesia telah menerbitkan Enhanced National Determined Contribution (ENDC) yang akan semakin mengurangi emisi pada sektor energi," kata Menteri Arifin.

Dalam upaya mencapai NZE, Kementerian ESDM juga telah membangun Peta Jalan NZE sektor energi untuk mencapai target pengurangan emisi dan mengimplementasikan transisi energi bersih.

"Peta Jalan ini terdiri atas pengembangan energi terbarukan, program reduksi karbon, pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), elektrifikasi, efisiensi energi, juga CCS/CCUS," ujar Menteri ESDM.

Namun, untuk mencapai target itu semua, Menteri Arifin menuturkan, pihaknya masih banyak menemui berbagai tantangan, semisal saja akses pembiayaan yang masih terbatas.

Terkait upaya pembiayaan, sudah terdapat beberapa inisiatif, yakni JETP, AZEC, dan IPEP yang saat ini sedang berlangsung. Namun demikian, Arifin menambahkan, masih diperlukan dukungan finansial lebih jauh untuk mempercepat pencapaian NZE.

"Indonesia dikaruniai dengan energi berbasis hidrokarbon seperti minyak bumi, gas bumi, serta batubara, dan energi terbarukan yakni energi hidro, panas bumi, surya, angin, dan bioenergi. Namun pertanyaan kini adalah bagaimana pemanfaatannya," ujar Arifin.

Selain itu, pengembangan teknologi pada skala industri perlu untuk diakselerasi dan dipermudah untuk memaksimalkan pemanfaatan energi terbarukan.

"Indonesia memperluas hilir industri pengolahan mineral untuk membangun ekosistem dan rantai pasokan yang mendukung transisi energi, serta menciptakan lapangan kerja baru," ujar dia.

"Pada sektor pertambangan mineral, kami mendukung hilirisasi komoditas mineral yang dapat mendukung pengembangan ekosistem EBT dan transisi energi," kata dia.

Kemudian transisi kendaraan listrik dipandang sebagai strategi utama untuk melakukan dekarbonisasi transportasi jalan raya, yang menawarkan manfaat ganda yaitu mengurangi emisi sekaligus mendukung dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan.

"Sektor transportasi akan menjadi sasaran pengurangan emisi, apalagi dengan meningkatnya penggunaan transportasi. Kita tidak mau lagi menambah emisi di atmosfer kita," kata Menteri ESDM.