• EKSEKUTIF

Kemdikbud Ristek Sebut JWG ke-13 Perkuat Kolaborasi Indonesia-Prancis

Agus Mughni Muttaqin | Sabtu, 06 Jul 2024 16:30 WIB
Kemdikbud Ristek Sebut JWG ke-13 Perkuat Kolaborasi Indonesia-Prancis Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Vokasi, Kemdikbud Ristek, Kiki Yuliati sebut Joint Working Group (JWG) ke-13 memperkuat kolaborasi Indonesia-Prancis dalam rangka penguatan pendidikan vokasi (Foto: Humas Kemdikbud Ristek)

INDONESIAINFO.ID - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud Ristek) menyatakan, Joint Working Group (JWG) ke-13 mendorong dan memperkuat kolaborasi antara Indonesia dan Prancis dalam rangka penguatan pendidikan vokasi untuk masa depan Indonesia.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Vokasi, Kemdikbud Ristek, Kiki Yuliati, mengatakan bahwa pihaknya mendorong satuan pendidikan vokasi untuk membangun kemitraan yang lebih kuat dengan dunia usaha dan dunia industri.

“Kami mendorong mereka untuk menyelaraskan kurikulum dan mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi. Kami ingin mereka memiliki konten yang fleksibel namun relevan dalam kurikulum, fokus pada soft skill dan pengembangan karakter,” kata Dirjen Kiki dalam keterangannya dikutip di Jakarta, Sabtu (6/7/2024).

Sekolah dan kampus vokasi, lanjut Dirjen Kiki, juga terus didorong untuk membangun teaching factory dalam rangka mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) dengan lingkungan pembelajaran berbasis kerja.

“Kami juga memiliki praktisi pengajar. Kami mengundang para praktisi, pebisnis ke ruang kelas untuk mengajar dan menginspirasi para mahasiswa dan dosen kami,” ujar Dirjen Kiki.

Untuk mendukung ekosistem riset di kampus vokasi, pemerintah, lanjut Dirjen Kiki, juga mendorong kolaborasi penelitian melalui Kedaireka.

“Kami juga memiliki program khusus magang di industri untuk para pengajar dan juga dosen, termasuk mahasiswa. Kami menyebutnya Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB),” ujarnya melanjutkan.

Lebih lanjut, Dirjen Kiki menyampaikan bahwa Indonesia memiliki beberapa ruang untuk berkolaborasi, terutama dalam pendidikan vokasi. Kemendikbudristek memiliki skema pendanaan bersama untuk penelitian.

“Program Matching Fund adalah program yang mendorong transformasi dalam penelitian. Kami mengundang industri untuk berkolaborasi dengan universitas untuk melakukan penelitian,” ujarnya.

Kiki menambahkan bahwa terdapat 6 fokus penelitian dalam transformasi ekonomi yang menjadi fokus pada tahun 2024, termasuk penelitian kolaboratif yang difokuskan pada isu perubahan iklim. Pertama, ekonomi hijau, pembangunan berkelanjutan, energi terbarukan.

Kedua, ekonomi biru, maritim, kelautan dan perikanan. Ketiga, teknologi tepat guna pada Science, Technology, Engineering, Math (STEM). Kemempat, sektor pariwisata.

Kelima, teknologi dan alat kesehatan, terutama untuk mendukung kemampuan kita dalam menangani penanganan pandemi, dan teknologi untuk mendukung persediaan alat kesehatan dan alat kesehatan. Terakhir, teknologi digital.

Berbagai program yang dikemas dalam kebijakan Merdeka Belajar tersebut, lanjut Dirjen Kiki, diharapkan akan mendorong para siswa/mahasiswa vokasi untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.

“Kami ingin masyarakat Indonesia menjadi pembelajar sepanjang hayat dengan karakter yang kuat dan berdasarkan Pancasila. Oleh karena itu, kami turut mengubah ruang kelas kami, mengubah lingkungan belajar kami dari yang tadinya sekolah sebagai sebuah beban dan sekarang sekolah sebagai pengalaman yang menyenangkan,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Dirjen Kiki juga menjelaskan tentang mobilitas staf, pelatihan keahlian yang didanai penuh untuk dosen dan tenaga kependidikan Indonesia ke berbagai negara, termasuk Prancis untuk program singkat maupun program non-gelar.

“Kami juga mengundang institusi-institusi Prancis, tidak hanya perusahaan-perusahaan, tetapi juga universitas-universitas untuk program-program pendek non-gelar yang menawarkan sertifikasi dan bidang-bidang khusus untuk guru-guru dan dosen-dosen kami,” ujarnya.