• BUMN

Menteri Erick: PNM Tak Lagi Berutang ke Luar Negeri

Agus Mughni Muttaqin | Kamis, 11 Jul 2024 15:01 WIB
Menteri Erick: PNM Tak Lagi Berutang ke Luar Negeri Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir (Foto: Kementerian BUMN)

INDONESIAINFO.ID - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, menyatakan bahwa penyertaan modal negara (PMN) sekarang tidak lagi bergantung pada utang luar negeri. Ia memastikan kini PMN berasal dari setoran dividen BUMN kepada negara.

Erick Thohir menyampaikan hal itu saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR, Jakarta, pada Rabu (10/7/2024).

"Tadi disampaikan oleh pimpinan rapat, ini salah satu perbaikan yang luar biasa di bawah pengawasan Komisi VI yang di mana selama ini tadinya PNM itu sangat bergantung dari utang negara kepada luar negeri. Tetapi hari ini kita bisa yakinkan bersama-sama ketika dividen bisa membiayai PMN itu sendiri," kata Erick Thohir dalam keterangan resmi dikutip pada Kamis (11/7/2024).

Ia mengatakan ketidak bergantungan PNM pada utang luar negeri ini merupakan sebuah proses keberlanjutan sebagai buah dari pencapaian transformasi BUMN dalam beberapa tahun terakhir.

"BUMN dalam lima tahun terakhir telah menyetorkan sekitar Rp 280 triliun atau jauh lebih tinggi dari PMM yang diterima BUMN selama lima tahun terakhir sekitar Rp 212 triliun," kata Erick.

Erick menyampaikan mayoritas PMN yakni sekitar 89 persen digunakan BUMN untuk menjalani penugasan negara. Sedangkan untuk restrukturisasi sebesar tujuh persen dan pengembangan usaha sebesar empat persen.

"Pimpinan dan anggota dewan terhormat ini yang tentu kita bisa paparkan angka detail keseluruhan yaitu PMN yang dibutuhkan untuk 2025 sebesar Rp 44 triliun," ujar Erick.

Erick berharap usulan ini dapat deducing Komisi VI. Ia juga mengajak Komisi VI untuk terus membantu mengawal implementasi penggunaan PMN.

"Besar harapan kami mendapat dukungan dari Komisi VI dan tentu pengawasan serta juga solusi-solusi yang bisa diberikan agar kita PMN ini bisa tepat sasaran dan memberikan manfaat lebih banyak lagi untuk pertumbuhan ekonomi," kata Erick.