Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) dan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) resmi memperkuat hubungan kerja sama ekonomi internasional Indonesia (Foto: Kemenko Perekonomian)
Indonesiainfo.id - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) dan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) resmi memperkuat hubungan kerja sama ekonomi internasional Indonesia.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat menyaksikan penandatangan nota kesepemahan kedua belah pihak, mengatakan bahwa kolaborasi dengan ERIA ialah dalam bentuk studi, publikasi, proyek bersama, dan kegiatan peningkatan kapasitas di bidang kerja sama ekonomi internasional.
"[ERIA] Ini adalah think tank yang masuk dalam top 10 daripada think tank yang di-publish oleh Report Civil Society dan think tank dari University Pennsylvania. Dan ini adalah salah satu think tank ternama yang berkantor di Jakarta," kata Airlangga dalam keterangan resmi dikutip di Jakarta, Rabu (31/7).
Adapun area yang menjadi lingkup kerja sama kedua institusi di antaranya ialah aksesi Indonesia dalam Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP).
Kemudian, keterlibatan dalam Asia Zero Emission Community (AZEC), pengembangan dan/atau perluasan ekspor Indonesia, penilaian potensi ekonomi industri kendaraan generasi mendatang, pengembangan strategi pembaruan armada jalan yang efisien dan efektif, serta area lain yang disepakai para pihak.
“Melalui kerja sama ini, saya harap kerja sama antara kedua pihak dapat semakin erat, khususnya terhadap upaya aksesi Indonesia dalam OECD. Saya yakin dengan sumber daya yang ERIA miliki, akan memperkuat Tim Nasional OECD dalam memenuhi target 3 tahun keanggotaan Indonesia di OECD”, kata Menko Airlangga.
Dalam pelaksanaan kerja sama ini, ERIA akan turut menyusun kajian dengan tema besar Future-Ready ASEAN, yaitu bagaimana Asia Tenggara sebagai sebuah kawasan mampu menyiapkan diri untuk isu ekonomi ke depan, seperti semikonduktor dan ekonomi digital.
ERIA akan melakukan Kajian Rantai Pasok Semikonduktor di ASEAN dan India. Asia Tenggara diproyeksikan akan memiliki 10% pangsa perakitan dan pengujian semikonduktor global pada tahun 2027.
Sementara itu, Presiden ERIA Tetsuya Watanabe menuturkan, revenue di pasar semikonduktor di Indonesia diproyeksikan mencapai USD2,9 miliar pada tahun 2029.
Oleh karena itu, Indonesia perlu mempersiapkan ekosistemnya secara matang. Skema insentif yang dilakukan India, dapat menjadi referensi bagi Indonesia.
“Melalui kerja sama ini, kami akan dukung Pemerintah Indonesia melalui Kemenko Perekonomian pada isu-isu kerja sama internasional, seperti upaya peningkatan ekspor, pengembangan industri otomotif, pengembangan ekosistem ekonomi digital dan semikonduktor, dan aksesi Indonesia dalam OECD dan CPTPP,” ujar Tetsuya Watanabe.
Sebagai informasi, ERIA merupakan organisasi internasional yang didirikan di Jakarta pada tahun 2008 untuk melakukan kegiatan penelitian dan menyusun rekomendasi kebijakan bagi integrasi ekonomi lebih lanjut di Asia Tenggara dan Asia Timur.
ERIA turut menjadi knowledge partner bagi pengembangan kebijakan negara-negara di kawasan ASEAN dan sebelumnya telah memberikan dukungan kepada Kemenko Perekonomian dalam bentuk kajian, analisis, dan dukungan teknis lainnya.