• EKSEKUTIF

Krisis Air Bersih, Badan Geologi Sarankan Tampung Air Hujan

Agus Mughni Muttaqin | Senin, 02 Sep 2024 13:31 WIB
Krisis Air Bersih, Badan Geologi Sarankan Tampung Air Hujan Badan Geologi menyarankan masyarakat terdampak kekeringan atau kesulitan air bersih untuk membuat penampungan air hujan (Foto: Kementerian ESDM)

Indonesiainfo.id - Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid menyarankan masyarakat terdampak kekeringan atau kesulitan air bersih untuk membuat penampungan air hujan agar meminimalisir kerentanan sumber daya air yang ada.

Saran itu disampaikan mengingat sekitar awal bulan Juli hingga saat ini, banyak terjadi kekeringan di berbagai wilayah di Indonesia, salah satunya terdampaknya ribuan warga di Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang mengalami kesulitan air bersih.

"Desa Jonggol tersebut merupakan daerah hulu dari sistem daerah aliran sungai (DAS) maupun cekungan air tanah (CAT), sehingga pada daerah ini relatif rentan terhadap ketersediaan sumber daya air, baik air permukaan maupun air tanah pada saat musim kemarau, seperti mengeringnya air sungai dan air sumur, serta berkurangnya debit mata air," kata Wafid dalam keterangan resmi dikutip di Jakarta, Senin (2/9).

Potensi air tanah sekitar wilayah terdampak hanya terbatas pada bagian atas (air tanah dangkal) dan tidak terdapat potensi air tanah pada bagian bawah (dalam) karena lapisan batuan pembawa air atau akuifer dari Satuan Batupasir dan Konglomerat bersifat tipis yang menumpang di atas batuan kedap air berupa Batulempung Formasi Jatiluhur.

"Potensi air tanah hanya terbatas pada bagian atas (air tanah dangkal) dan tidak terdapat potensi air tanah pada bagian bawah (dalam). Hal tersebut membuat daerah ini rentan terhadap potensi kekeringan yang disebabkan oleh berlangsungnya musim kemarau," kata Wafid.

Melihat kondisi yang ada Wafid menyarankan masyarakat sekitar untuk membuat penampungan air hujan, sumur resapan dangkal serta membangun infrastruktur sederhana untuk menunjang konservasi tanah.

"Secara umum metode ini berguna untuk menahan air permukaan lebih lama sehingga meningkatkan kapasitas resapan air permukaan menjadi air tanah," jelas Wafid.

Berdasarkan data badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Desa Jonggol secara geomorfologi merupakan daerah perbukitan bergelombang landai dengan elevasi antara 50 hingga 150 maml.

Secara geologis, daerah ini tersusun atas Satuan Batupasir tufan dan Konglomerat (Qav) pada bagian atas dan Formasi Jatiluhur (Tmj) pada bagian bawah. Satuan Batupasir tufan dan Konglomerat (Qav) terdiri atas batupasir tufan, konglomerat, tuf dan breksi, sedangkan Formasi Jatiluhur (Tmj) terdiri atas batulempung gampingan bersisipan batugamping pasiran (Achdan dan Sudana, 1992).

Desa Jonggol secara hidrologis merupakan bagian hulu dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Cibodas yang airnya mengalir menuju DAS utama berupa aliran Sungai Cipatujah dengan arah aliran relatif ke utara.

Lokasi ini merupakan daerah dengan lapisan batuan pembawa air tanah memiliki produktivitas kecil hingga setempat memiliki produktivitas sedang (Posepowardoyo, 1986). Akuifer produktivitas sedang tersebut bersifat tipis dan tidak menerus.

Kondisi tersebut berkaitan dengan kondisi geologi yaitu satuan batupasir dan konglomerat (Qav) yang bersifat sebagai akuifer (lapisan batuan pembawa air) relatif tipis yang menumpang di atas Formasi Jatiluhur (Tmj) yang bersifat sebagai batuan kedap air (akuiklud).