• EKSEKUTIF

Indonesia Mulai Bangun Smelter Nikel Berbasis Energi Terbarukan

Agus Mughni Muttaqin | Minggu, 15 Sep 2024 22:02 WIB
Indonesia Mulai Bangun Smelter Nikel Berbasis Energi Terbarukan Peresmian groundbreaking smelter High-Pressure Acid Leaching (HPAL) pertama yang berbasis energi terbarukan di Kawasan Neo Energy Morowali Industrial Estate (NEMIE), Sulawesi Tengah (Foto: Humas Kementerian Perekonomian)

Indonesiainfo.id - Indonesia telah memasuki babak baru dalam industri mineral kritis dengan dimulainya pembangunan smelter High-Pressure Acid Leaching (HPAL) pertama yang berbasis energi terbarukan. Pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik (EV) di Kawasan Neo Energy Morowali Industrial Estate (NEMIE), Sulawesi Tengah ini diresmikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.

Disebutkan, pembangunan smelter HPAL ini merupakan bagian dari strategi hilirisasi mineral kritis yang ambisius, terutama nikel, yang menjadi fokus utama pemerintah Indonesia. Kebijakan hilirisasi ini bertujuan meningkatkan daya saing ekonomi nasional, menambah nilai bahan baku domestik, menarik investasi asing, dan menciptakan lapangan kerja baru.

“Hilirisasi nikel berhasil meningkatkan nilai ekspor produk turunan nikel. Hal itu dapat dilihat dari nilai ekspor yang meningkat delapan kali lipat dari USD4,31 miliar pada 2017 menjadi USD34,44 miliar pada 2023," kata Airlangga dalam keterangan resmi dikutip di Jakarta, Minggu (15/9).

Data terbaru dari Kementerian Investasi/BKPM mencatat bahwa hingga Juni 2024, total investasi dalam hilirisasi nikel, termasuk pembangunan smelter dan pabrik baterai kendaraan listrik, telah mencapai USD30 miliar.

Indonesia berpotensi menjadi pusat global untuk produksi baterai EV, dengan kapasitas suplai yang dapat mencapai 210 GWh per tahun. Ini adalah bagian dari strategi global yang melibatkan kerjasama dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Kanada, dan Australia.

"Kemitraan ini krusial untuk memperkuat ekosistem EV global dan menegaskan posisi Indonesia dalam industri critical minerals," kata Menko Airlangga.

Smelter HPAL Neo Energy yang baru diluncurkan ini akan mengolah bijih nikel menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku utama untuk katoda baterai EV. Dengan kapasitas tambahan 120 ribu MT MHP per tahun dan penggunaan 100% energi terbarukan dari tenaga air dan surya, fasilitas ini mendukung target Indonesia untuk mencapai zero emission dalam industri.

Kawasan Industri NEMIE, yang telah mendapatkan Izin Usaha Kawasan Industri (IUKI) pada Agustus 2024, menawarkan jaminan hukum bagi investor dan menciptakan lingkungan investasi yang kondusif.

Menko Airlangga juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan aparat TNI/Polri untuk menjaga keamanan proyek sebagai Proyek Strategis Nasional.

Dalam acara tersebut, Menko Airlangga memberikan Sertifikat Tanah kepada warga setempat dan menandatangani prasasti yang menandakan dimulainya pembangunan. Kawasan Industri Morowali, yang menyumbang 72,72% terhadap PDRB dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 20,34% pada 2023, menunjukkan kontribusi besar terhadap ekonomi lokal dan nasional.

Pembangunan smelter HPAL ini menandai komitmen Indonesia untuk memimpin dalam industri mineral kritis dan baterai kendaraan listrik global, serta menciptakan peluang ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan untuk masa depan.