• EKSEKUTIF

Luhut Pede Indonesia Mampu Penuhi Kebutuhan Baterai EV Dunia

Agus Mughni Muttaqin | Rabu, 09 Okt 2024 14:36 WIB
Luhut Pede Indonesia Mampu Penuhi Kebutuhan Baterai EV Dunia meresmikan tahap pertama produksi dan rencana ekspansi fasilitas pembuatan bahan katoda Lithium Iron Phosphate (LFP) oleh PT LBM Energi Baru Indonesia (Foto: Kemenko Mareves)

Indonesiainfo.id - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan baru saja meresmikan tahap pertama produksi dan rencana ekspansi fasilitas pembuatan bahan katoda Lithium Iron Phosphate (LFP) oleh PT LBM Energi Baru Indonesia.

Proyek ambisius ini merupakan hasil kemitraan strategis antara konsorsium Indonesia Investment Authority (INA) dan Changzhou Liyuan New Energy Technology Co., Ltd., salah satu produsen LFP terbesar di dunia.

Investasi sekitar USD 200 juta ini bertujuan untuk memenuhi lonjakan permintaan global terhadap baterai LFP, yang sejalan dengan pertumbuhan pesat kendaraan listrik (EV) di seluruh dunia.

"Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi eksportir bahan mentah. Kita harus menciptakan nilai tambah di negeri sendiri, membangun industri hilir yang kuat, dan menempatkan diri sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global," ujar Menko Luhut dalam peresmian Kemitraan Investasi antara Konsorsium INA dan Changzhou Liyuan pada Fasilitas Produksi Katoda LFP, pada Selasa (8/10).

Fasilitas yang berlokasi di Kendal Industrial Park (KIP), kawasan industri terkemuka yang berstatus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), direncanakan untuk menjadi produsen LFP terbesar di luar China. Saat ini, kapasitas produksi sedang dalam tahap percontohan sebesar 30.000 ton, dan ditargetkan meningkat menjadi 90.000 ton pada fase kedua yang dimulai pada 2025.

LFP adalah salah satu dari dua bahan kimia utama dalam baterai lithium-ion, dikenal dengan efisiensi biaya yang tinggi, dan sangat cocok untuk EV serta sistem penyimpanan energi. Berdasarkan studi Bain, permintaan global baterai diperkirakan akan meningkat empat kali lipat antara 2023 dan 2030, dengan LFP menyumbang sekitar 35% dari total permintaan baterai lithium-ion.

"[Proyek] ini bukan sekadar pabrik, tetapi juga fondasi bagi ekosistem kendaraan listrik di Indonesia," jelas Menko Luhut. Melalui rantai produksi baterai yang terintegrasi, industri Indonesia diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan baterai untuk tidak kurang dari 3 juta unit kendaraan listrik di seluruh dunia.

Ketua Dewan Direktur INA, Ridha Wirakusumah, menyoroti bahwa kemitraan ini memberikan peluang signifikan bagi Indonesia untuk menjadi pemain kunci di ekosistem baterai global, terutama mengingat Indonesia diperkirakan akan melayani pasar senilai USD 10 miliar dalam bahan aktif katoda LFP pada tahun 2030.

CEO Changzhou Liyuan, Shi Junfeng, menegaskan bahwa proyek ini akan memperkuat keamanan pasokan dalam rantai pasok energi baru global dan menjadi simbol kemitraan strategis yang erat antara China dan Indonesia.

Lebih dari sekadar keuntungan ekonomi, proyek ini diharapkan akan memberikan dampak sosial yang signifikan, menciptakan lebih dari 2.000 lapangan kerja dengan 92% diisi oleh tenaga kerja lokal. Ini adalah contoh nyata bagaimana investasi besar dapat langsung meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Dengan langkah ini, Indonesia tidak hanya menegaskan komitmennya untuk mendukung transisi global menuju energi berkelanjutan, tetapi juga menunjukkan potensi besarnya dalam industri kendaraan listrik dan baterai. Kemitraan ini menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional serta mempercepat inovasi dan pengembangan dalam sektor energi bersih.