Ilustrasi kenaikan suprlus ekspor komoditas perikanan (Foto: Unsplash/Anne Nygård)
INDONESIAINFO.ID - Angka surplus ekspor perikanan tercatat mengalami kenaikan pada periode Januari-September 2024 senilai USD3,87 miliar. Angka tersebut naik sekitar 7,2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Budi Sulistiyo mengatakan, peningkatan ini menjadi penanda positif bagi kinerja positif sektor perikanan dan dapat membuka peluang pasar yang lebih luas.
"Kabar baiknya, pasar ekspor ke negara lain mengalami peningkatan," kata Budi dalam keterangannya, dikutip di Jakarta, Senin (28/10/2024).
Adapun pasar utama bagi produk perikanan Indonesia ialah Amerika Serikat (AS) dengan nilai ekspor mencapai USD 1,38 miliar atau 32,6 persen dari total ekspor perikanan.
Lebih lanjut, Budi menilai dengan surplus perdagangan yang semakin besar, Indonesia berhasil mempertahankan posisi sebagai negara net eksportir produk perikanan.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), peningkatan signifikan terjadi pada Agustus 2024. Di bulan tersebut, volume ekspor meningkat 34,2% dan nilanya tumbuh 10,7% dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya.
Selain itu, Budi juga menyampaikan, Asia Tenggara (ASEAN) dan Uni Eropa menjadi pasar penting mengingat masing-masing menyumbang USD 569,75 juta (13,5%) dan USD 309,41 juta (7,3%) terhadap total ekspor produk perikanan Indonesia.
Bahkan peningkatan terbesar terlihat pada ekspor ke Uni Eropa yang tumbuh 23,3% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Ini menunjukkan potensi besar bagi pasar Eropa yang dapat terus dimaksimalkan oleh pelaku usaha perikanan Indonesia," kata Budi.
Adapun produk perikanan utama pada periode ini terdiri dari beberapa komoditas unggulan seperti udang yang menjadi komoditas ekspor terbesar dengan nilai mencapai USD 1,18 miliar atau 28,1% dari total ekspor produk perikanan Indonesia.
Selain itu, komoditas lain seperti Tuna-Cakalang-Tongkol (TCT) dan Cumi-Sotong-Gurita (CSG) mengalami peningkatan signifikan, masing-masing tumbuh 7,9% dan 24,7%.
Kemudian peningkatan sebesar 40,4% pada ekspor Rajungan-Kepiting juga memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan nilai ekspor keseluruhan.
"Peningkatan ekspor CSG terutama didorong oleh permintaan yang kuat dari Tiongkok dan ASEAN," kata Budi.