Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman pada rapat koordinasi cetak sawah rakyat (CSR) di Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Foto: Kementan)
Indonesiainfo.id - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pihaknya berencana mencetak 500.000 hektare sawah di Kalimantan Selatan (Kalsel). Hal ini Mentan sampaikan pada rapat koordinasi cetak sawah rakyat (CSR) di Banjarbaru, Kalsel, Senin (4/11).
Mentan pun mengajak masyarakat di Kalsel untuk bersama-sama mensukseskan program CSR tersebut sebagai upaya bersama menjalankan visi Presiden Prabowo dalam mewujudkan swasembada pangan secara cepat dan singkat.
“Percepatan CSR di Kalsel menjadi suatu keharusan, oleh karena itu kita harus memperkuat koordinasi terutama dalam mempermudah pencapaian target swasembada pangan seperti yang dicanangkan Bapak Presiden,” kata Mentan dalam siaran pers dikutip pada Rabu (6/11).
Mentan Amran menjelaskan bahwa target 500.000 hektare tersebut akan dikejar secara bertahap. Untuk tahap I, Kementan akan mulai cetak sawah seluas 152.291 hektare pada lahan yang berada di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kabupaten Tanah Laut, dan Kabupaten Tapin. Kemudian akan dilanjutkan untuk daerah lainnya di Kalimantan Selatan.
“Kalau kita melihat data luasan lahan di Kalsel potensi di sini sangatlah besar. Karena itu saya optimis keberhasilan CSR mampu menyumbang ketersediaan volume beras yang siginifikan di dalam negeri, dan bahkan berpeluang untuk diekspor ke luar negeri,” katanya.
Mentan Amran bersyukur sampai saat ini banyak petani milenial yang bergabung dalam program cetak sawah dan juga pertanian modern di Kalsel. Hal ini karena pemerintah terus melakukan intervensi teknologi mekanisasi sebagai transformasi pertanian tradisional ke modern.
Disebutkan, saat ini ada ribuan petani milenial yang telah mendaftarkan diri untuk mengikuti program pertanian modern. Mereka rata-rata berasal dari kampus dan organisasi kepemudaan. Dari hitungan sementara, pendapatan bersih dari pertanian modern ini mencapai kurang lebih Rp20 juta per orang.
“Pertanian modern mampu menekan biaya produksi hingga 50 persen yang diperoleh dari efisiensi tenaga kerja karena kita menggunakan peralatan dan mesin modern, seperti tractor untuk olah tanah, transplanter untuk tanam bibit, drone untuk pupuk dan obat hama, dan combine harvester untuk panen sehingga potensi pendapatan masing-masing petani milenial mencapai 10-20 juta per bulan,” jelasnya.
Untuk itu, Kementan menggandeng beberapa perusahaan untuk berkomitmen mendukung percepatan cetak sawah dengan penyediaan alat dan mesin pertanian. “Ada 14 perusahaan komitmen untuk menyiapkan alat untuk cetak sawah, totalnya sekitar 2.000 alat. Jadi, kita lakukan percepatan bahkan kami minta kepada Dirjen PSP, kontraknya diselesaikan 1-2 hari ke depan, maksimal 3 hari,” jelas Mentan Amran.
Selain itu, Mentan Amran juga menekankan peran generasi muda untuk andil dalam program cetak sawah melalui Brigade Pangan yang dikawal Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP). “Kita ada Brigade di mana 200 hektare dikelola 15 orang, mereka diberi alat teknologi. Kita ingin petani milenial terlibat,” ujarnya.