Pembinaan dan Evaluasi Penyuluh Agama Islam (Foto: kemenag)
INDONESIAINFO.ID - Kementerian Agama (Kemenag) melakukan perubahan strategi dalam program kepenyuluhan dengan mengedepankan pendekatan berbasis keluarga. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas layanan penyuluhan serta memberikan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat.
“Pendekatan ini didasarkan pada fakta bahwa keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Dengan menjadikannya sebagai fokus utama, hasil penyuluhan akan lebih terukur dan konkret,” ujar Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, dalam kegiatan Pembinaan, Evaluasi Kinerja, dan Serap Aspirasi Penyuluh Agama Islam Provinsi Jawa Barat di Kota Bandung, pada Jumat (14/3).
Pendekatan berbasis keluarga ini juga sejalan dengan program Bimbingan Keluarga Maslahat yang telah diterapkan di Kantor Urusan Agama (KUA). Program tersebut memberikan pendampingan dalam berbagai aspek, mulai dari keagamaan hingga sosial. “Para penyuluh akan membina sejumlah keluarga dengan metode yang lebih mendalam dan terstruktur. Dengan begitu, dampaknya lebih jelas dan dapat dihitung secara konkret,” jelas Zayadi.
Ke depan, 12 bidang penyuluhan akan lebih diarahkan pada pemberdayaan keluarga, termasuk pelatihan baca tulis Al-Qur`an, edukasi perkawinan, hingga peningkatan ekonomi berbasis keluarga.
"Selama ini penyuluh sudah bekerja keras di lapangan, tetapi kita perlu data akurat untuk mengukur dampaknya. Semua program yang telah dijalankan harus dapat dibuktikan dengan angka,” tegasnya.
Selain memperjelas hasil penyuluhan, strategi ini juga berpengaruh terhadap penganggaran program kepenyuluhan. Dengan data kuantitatif yang lebih akurat, pengajuan anggaran diharapkan menjadi lebih kuat.
"Keakuratan data akan menjadi dasar dalam mengajukan peningkatan fasilitas dan pendanaan bagi program keagamaan," tambahnya.
Zayadi berharap pendekatan berbasis keluarga ini dapat memperkuat ketahanan sosial dan keagamaan di tengah masyarakat. Dengan metode ini, penyuluhan tidak hanya bersifat informatif tetapi juga mampu membawa perubahan sosial yang lebih mendalam dan berkelanjutan.
“Fokus pada keluarga akan memberikan dampak jangka panjang yang lebih besar dibandingkan pendekatan berbasis komunitas,” pungkasnya.