Menteri Luar Negeri RI, Sugiono (Foto: kemlu)
Jakarta, Indonesiainfo.id - Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, pada Kamis (10/7) menegaskan pentingnya kemitraan antara ASEAN dan Amerika Serikat untuk menjaga stabilitas kawasan serta mendorong pertumbuhan inklusif.
Pernyataan ini disampaikan dalam Konferensi Tingkat Menteri Post-ASEAN-US (PMC) yang dihadiri oleh Menlu AS, Marco Rubio.
Menlu Sugiono menyoroti bahwa Amerika Serikat adalah mitra pertumbuhan dan perdamaian bagi ASEAN. Ia mencontohkan keberhasilan kerja sama konkret, termasuk pendirian ASEAN-US Center di Washington DC pada tahun 2023 yang berhasil meningkatkan visibilitas ASEAN di AS.
Untuk mempertahankan momentum positif ini, Indonesia juga menyambut baik dukungan kuat dari Parlemen AS terhadap ASEAN Act, yang dinilai semakin memperkuat komitmen jangka panjang AS terhadap kawasan.
Selain itu, kerja sama pendidikan tetap menjadi pilar utama, dengan lebih dari 8.000 pelajar Indonesia saat ini menempuh studi di AS.
"Para pelajar ini bukan hanya pencari ilmu, tetapi juga jembatan strategis kemitraan kita. Kami berharap kebijakan visa yang lebih inklusif dapat mendukung investasi jangka panjang ini," ujar Menlu Sugiono.
Menlu Sugiono juga berharap AS akan terus mendukung perdagangan yang terbuka dan adil, termasuk melalui ASEAN-US Trade and Investment Framework Arrangement (TIFA).
Sebagai mitra perdamaian, Menlu Sugiono menekankan bahwa penghormatan terhadap hukum internasional harus menjadi dasar bersama dalam menghadapi dinamika geopolitik global.
Secara khusus, ia menyoroti krisis kemanusiaan di Gaza sebagai konsekuensi langsung dari pelanggaran prinsip hukum internasional.
"Tragedi kemanusiaan di Gaza harus menjadi pendorong bagi kita semua. Indonesia kembali menyerukan gencatan senjata permanen, akses kemanusiaan tanpa hambatan, dan jalan kredibel menuju solusi dua negara sesuai resolusi PBB," tegas Menlu Sugiono.
Mengakhiri pernyataannya, Menlu Sugiono menyerukan agar kemitraan ASEAN-AS dapat menjadi teladan dalam tanggung jawab bersama, pertumbuhan inklusif, dan perdamaian yang berkelanjutan.