Anggota DPR Komisi X, Robert J Kardinal (Foto: Istimewa)
Jakarta, Indonesiainfo.id - Kalangan DPR mengingatkan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir untuk tidak hanya fokus pada pengembangan olahraga, tetapi juga memperhatikan peningkatan peran pemuda di berbagai sektor.
Ketua Komisi X DPR, Hetifah Sjaifudian, berharap Menteri Erick dapat menciptakan tata kelola olahraga yang transparan, memperkuat pembinaan atlet sejak dini, serta menjadikan olahraga sebagai alat pemersatu bangsa.
“Di sisi lain, kami juga menanti terobosan beliau dalam membuka ruang seluas-luasnya bagi pemuda untuk berperan aktif di bidang sosial, politik, ekonomi, dan kreativitas,” ujar Hetifah pada Kamis (18/9) dikutip dari Jurnas.com.
Hetifah menegaskan bahwa Komisi X siap bekerja sama untuk memastikan implementasi Undang-Undang Keolahragaan dan UU Kepemudaan, serta mendorong program strategis yang menjadikan pemuda sebagai motor pembangunan dan olahraga Indonesia yang berprestasi di tingkat dunia.
Dia menekankan pentingnya proporsi yang seimbang antara pengembangan pemuda dan olahraga, mengingat jumlah pemuda di Indonesia mencapai 51,84 juta jiwa atau sekitar 20 persen dari total penduduk Indonesia.
“Jadi harus proporsional dalam menjalankan program kepemudaan dan keolahragaan, sesuai jumlah sumber daya manusia yang diperhatikan. Mudah-mudahan kita tidak melewatkan bonus demografi kita, dengan memaksimalkan potensi para pemuda ini,” tambahnya.
Politisi senior Fraksi Golkar DPR, Robert J. Kardinal, juga menyuarakan pendapat serupa. Berdasarkan pengamatannya, Kementerian Pemuda dan Olahraga selama ini lebih fokus pada program olahraga dan kurang memperhatikan pengembangan kepemudaan.
“Sementara untuk kegiatan kepemudaannya, pengembangan generasi mudanya ditinggal,” ujar Robert yang pernah menjabat di Komisi X DPR pada periode 2019-2024.
Robert berharap di era Menteri Erick, kegiatan Kemenpora dapat lebih memprioritaskan pengembangan kepemudaan, atau setidaknya ada keseimbangan antara program kepemudaan dan olahraga.
“Jadi jangan lagi seperti yang lalu-lalu, (program pengembangan) kepemudaannya nggak diurus. Generasi muda kita dibiarkan begitu saja tanpa campur tangan Pemerintah,” tuturnya.
Selama ini, publik sering mengidentikkan Kemenpora hanya dengan urusan atlet, turnamen, dan fasilitas olahraga. Padahal, kementerian ini memiliki mandat ganda: mengurus pemuda dan olahraga.
"Kemenpora harus menyadari, pemuda tidak hanya butuh lapangan untuk berolahraga, tetapi juga ruang untuk berdaya, berkreasi, dan berkontribusi," tegasnya.
Robert menambahkan bahwa program kepemudaan harus lebih digalakkan sebagai langkah nyata Pemerintah untuk mencetak generasi yang mandiri dan visioner.
“Kemenpora harus berperan sebagai fasilitator dalam menyediakan pelatihan, jaringan, hingga akses pendanaan. Kemenpora harus mampu melahirkan `atlet sosial` dan `atlet perubahan` di berbagai bidang,” jelasnya.
Meskipun demikian, Robert mengakui tantangan besar yang dihadapi, mengingat politik anggaran selama ini lebih banyak terserap untuk mendukung event olahraga besar ketimbang membina komunitas anak muda di daerah.
“Di sinilah Kemenpora diharapkan hadir, bukan hanya mengurusi piala, tapi juga masa depan,” tutup Robert.