Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier (Foto: Vaza/Indonesiainfo.id)
Jakarta, Indonesiainfo.id - Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, menyatakan kebanggaan atas jumlah besar alumni asal Indonesia yang menempuh pendidikan di Australia.
Hal itu ia sampaikan saat menghadiri festival musik mini tahunan Gig on the Green yang digelar di Jakarta, pada Sabtu (27/9).
Menurut Brazier, lebih dari 200 ribu orang Indonesia telah lulus dari berbagai universitas di Australia. Angka ini menempatkan Australia sebagai salah satu tujuan pendidikan tinggi paling populer di dunia bagi pelajar Indonesia. Saat ini, terdapat lebih dari 25 ribu mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di Negeri Kanguru.
“Kami sangat bangga dengan jumlah ini dan berharap ke depan jumlah mahasiswa Indonesia di Australia semakin bertambah,” ujar Brazier.
Brazier menegaskan, para mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan di berbagai disiplin ilmu, mulai dari bisnis, sains, hingga pertanian. Ia menyebut bidang pertanian menjadi salah satu keunggulan akademik Australia, sejalan dengan karakter negaranya yang juga bergantung pada produk pertanian.
“Beberapa universitas di Australia memiliki fakultas pertanian yang sangat bagus. Kami yakin banyak mahasiswa Indonesia yang mengambil bidang ini,” jelasnya.
Terkait kontribusi alumni, Dubes Brazier berharap keterampilan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Australia dapat bermanfaat bagi pembangunan Indonesia.
“Yang pertama kami harapkan mereka bisa berkontribusi pada ekonomi dan kemakmuran Indonesia. Itu yang paling penting, karena potensi Indonesia masih sangat besar,” ujarnya.
Festival Gig on the Green kali ini menghadirkan berbagai hiburan, mulai dari konser musik hingga sajian kuliner khas Australia, seperti barbecue dan sausage sandwich.
Brazier menyampaikan harapannya agar acara serupa dapat terus digelar di berbagai kota di Indonesia, setelah sebelumnya dilaksanakan di Surabaya, Makassar, dan Kupang.
“Semoga Gig on the Green bisa kembali diadakan di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia,” kata Brazier.
Dalam kesempatan itu, Brazier juga menepis isu negatif tentang Islamofobia atau diskriminasi di Australia. Ia menegaskan, pengalaman mahasiswa Indonesia di Australia umumnya positif dan aman.
“Saya sendiri tidak pernah mendengar ada masalah dengan Islamofobia. Mungkin di media sosial kadang-kadang ada yang diperbesar, tapi pengalaman saya dan teman-teman muslim tidak ada masalah,” ungkapnya.