Menteri Agama, Nasaruddin Umar saat mengikuti acara Hari Kartini di kantor Kementerian Agama pada Selasa (21/4) pagi (Foto: kemenag)
Jakarta, Indonesiainfo.id - Meneladani Kartini tidak cukup pada simbol, tetapi pada keberanian berpikir dan bertindak untuk perubahan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar memberikan pesan dalam peringatan Hari Kartini di halaman kantor Kementerian Agama.
Peringatan Hari Kartini menjadi pengingat nilai perjuangan, keberanian berpikir, dan kontribusi perempuan dalam pembangunan bangsa.
Menag menegaskan bahwa Raden Ajeng Kartini merupakan figur penting dalam sejarah Indonesia yang mendorong lahirnya kesadaran baru tentang peran perempuan di ruang publik.
“Raden Ajeng Kartini adalah sosok luar biasa yang dapat kita sebut sebagai pelopor kesadaran kemerdekaan perempuan Indonesia. Di usia muda, beliau sudah berani mempertanyakan berbagai kondisi sosial di lingkungannya,” ujar Menag, pada Selasa (21/4).
Ia menjelaskan, Kartini mengkritisi sejumlah praktik sosial pada masanya, seperti pembatasan ruang gerak perempuan melalui tradisi pingitan, serta keterbatasan akses pendidikan.
Pengalaman hidup tersebut membentuk cara pandangnya terhadap pentingnya keadilan dan kesempatan yang setara.
Selain itu, Menag juga menyoroti pemikiran Kartini yang tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga menyentuh aspek keagamaan. Kartini, menurutnya, memiliki pandangan progresif dalam memahami ajaran agama secara lebih mendalam.
“Beliau tidak puas hanya membaca Al-Qur`an secara tekstual tanpa memahami maknanya. Beliau mendorong adanya tafsir Al-Qur`an agar agama tidak hanya menjadi dogma teologis, tetapi menjadi way of life (pegangan hidup) dan penuntun bagi masyarakat.” lanjutnya.
Menag menambahkan, latar belakang Kartini sebagai bagian dari kalangan priyayi tidak menghalangi lahirnya pemikiran kritis. Justru dari lingkungan tersebut, Kartini menunjukkan keberanian untuk melihat realitas secara berbeda.
“Seorang tokoh besar lahir dari keberanian untuk berpikir berbeda, berani mengambil sikap, dan berani menghadapi tantangan zamannya. Itulah yang ditunjukkan oleh Kartini,” kata Menag.
Ia pun mengajak seluruh ASN Kementerian Agama untuk menjadikan semangat Kartini sebagai inspirasi dalam bekerja dan berkarya, tanpa membedakan latar belakang maupun gender.
“Yang perlu kita teladani adalah keberanian berpikir, kepekaan sosial, dan semangat untuk terus memberi manfaat. Ini relevan bagi kita semua dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat,” ucap Menag.
Peringatan Hari Kartini di lingkungan Kementerian Agama tidak hanya menjadi ajang refleksi historis, tetapi juga momentum untuk memperkuat komitmen menghadirkan ruang yang inklusif, adil, dan berdaya bagi seluruh elemen bangsa.