• NEWS

Mengapa Burung Garuda Dipilih Sebagai Lambang Negara Indonesia?

Vaza Diva Fadhilah Akbar | Selasa, 02 Jun 2026 16:30 WIB
Mengapa Burung Garuda Dipilih Sebagai Lambang Negara Indonesia? Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur (Foto: RRI)

Jakarta, Indonesiainfo.id - Lambang Garuda Pancasila sudah menjadi pemandangan yang sangat akrab bagi masyarakat Indonesia.

Sosoknya dengan mudah kita temukan di dinding kelas, ruang kerja pemerintah, dokumen paspor, hingga seragam tim nasional.

Namun, pernahkah terlintas di benak kita, mengapa para pencetus negara ini menjatuhkan pilihan pada burung Garuda? Mengapa bukan komodo, harimau sumatera, atau satwa endemik nusantara lainnya?

Pemilihan Garuda sebagai lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak terjadi secara kebetulan atau sekadar urusan estetika visual.

Ada alasan filosofis, historis, dan mitologis yang sangat mendalam di balik keputusan besar tersebut.

Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ini alasan mengapa burung Garuda dipilih menjadi simbol keagungan bangsa Indonesia:

1. Simbol Keperkasaan dan Kekuatan

Alasan mendasar yang paling terlihat adalah karakter fisik dan filosofis dari Garuda itu sendiri. Garuda digambarkan sebagai burung yang besar, kuat, perkasa, dan berwibawa.

Para pendiri bangsa ingin menanamkan visi bahwa Indonesia yang baru merdeka harus tumbuh menjadi negara yang besar dan kuat.

Garuda menjadi simbol energi, dinamisme, dan ketangguhan yang merepresentasikan jiwa rakyat Indonesia yang pantang menyerah dalam mempertahankan kedaulatan.

2. Akar Historis dan Mitologis yang Kuat

Garuda bukanlah makhluk asing dalam ingatan kolektif masyarakat nusantara. Jauh sebelum Indonesia merdeka, figur Garuda telah dikenal luas dalam mitologi Jawa dan Bali sejak abad ke-6.

Dalam berbagai literatur klasik dan epos, Garuda digambarkan sebagai kendaraan Dewa Wisnu yang melambangkan kebajikan, pengetahuan, dan pemeliharaan alam semesta.

Jejak visualnya dapat ditemukan di berbagai candi kuno di Indonesia, seperti Canti Prambanan, Candi Mendut, hingga Candi Kidal. Memilih Garuda berarti menghubungkan benang merah peradaban modern Indonesia dengan kejayaan masa lalu leluhur bangsa.

3. Lambang Pembebasan dari Penjajahan

Dalam kisah Garudeya yang terpahat di Candi Kidal (Jawa Timur), Garuda dikisahkan rela berjuang mati-matian menyabung nyawa untuk membebaskan ibunya, Winata, dari belenggu perbudakan para naga.

Kisah heroisme Garuda yang membebaskan ibunya dari perbudakan ini dinilai sangat paralel dengan perjuangan para pahlawan nusantara.

Garuda adalah simbol mutlak dari pembebasan atas penjajahan, kemerdekaan, dan bakti suci anak bangsa kepada Ibu Pertiwi.

4. Makna Filosofis Jumlah Bulu yang Sakral

Desain Garuda Pancasila yang kita kenal sekarang dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Ir. Soekarno.

17 helai bulu pada masing-masing sayap (melambangkan tanggal kemerdekaan).

8 helai bulu pada ekor (melambangkan bulan Agustus).

19 helai bulu di bawah perisai/pangkal ekor (melambangkan dua angka pertama tahun kemerdekaan).

45 helai bulu di leher (melambangkan dua angka terakhir tahun kemerdekaan).

Melengkapi kegagahan sang burung, kedua cengkeraman kaki Garuda menggenggam erat pita putih bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika.

Semboyan kuno karya Empu Tantular dari Kitab Sutasoma ini menegaskan tugas utama Garuda, menjaga dan menyatukan keragaman suku, agama, dan budaya di Indonesia dalam satu kesatuan yang utuh.