Acara `Reuni Aktivis in the ADK (Arena Demokrasi dan Kritik) Show` yang digagas politisi senior Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia Tandjung (Foto: Ist)
Jakarta, Indonesiainfo.id – Kantor Radio Republik Indonesia (RRI) Pusat di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, tampak lebih ramai dari biasanya pada Minggu (26/7/2026).
Ratusan aktivis dari berbagai latar belakang memadati gedung lembaga penyiaran publik tersebut untuk menghadiri acara "Reuni Aktivis in the ADK (Arena Demokrasi dan Kritik) Show" yang digagas politisi senior Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia Tandjung.
Acara tersebut sekaligus menjadi momentum perayaan ulang tahun ke-55 Ahmad Doli Kurnia yang juga merupakan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Rangkaian kegiatan diawali dengan makan malam bersama, kemudian berlanjut dengan berbagai agenda yang dipandu duet presenter Mamat Alkatiri dan Eva Purbasari.
Suasana semakin semarak melalui sesi roasting, penyampaian testimoni dari sejumlah tokoh nasional, peluncuran buku, hingga penampilan musik kebangsaan.
Ketua Umum Partai Golkar periode 1998–2004, Akbar Tandjung, melalui sang istri Nina Akbar Tandjung, menyampaikan apresiasi atas perjalanan politik Ahmad Doli Kurnia yang dinilainya sebagai salah satu kader yang ditempa langsung oleh Akbar Tandjung.
Nina mengingatkan bahwa politik harus dipandang sebagai panggilan hidup yang dijalankan dengan kehormatan dan orientasi pelayanan kepada masyarakat.
"Demokrasi juga membutuhkan keteraturan, meskipun akhir-akhir ini kita melihat banyak dinamika yang terjadi," ujar Nina.
Ia juga berpesan agar janji-janji politik yang telah disampaikan kepada rakyat benar-benar diwujudkan.
"Ingat janji-janji politik yang sedang ditunggu rakyat, tunaikan," katanya.
Mantan Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa turut memberikan testimoni mengenai kerja sama dengan Ahmad Doli Kurnia dalam proses penyusunan Undang-Undang Ibu Kota Nusantara (IKN).
Sementara itu, Guru Besar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Siti Zuhro, menilai Ahmad Doli Kurnia sebagai representasi kader Golkar dan HMI. Namun, ia menyampaikan catatan dengan nada ringan mengenai karakter Doli.
"Saya melihat Doli kurang punya sense of humor," kata Siti yang disambut tawa para hadirin.
Menurutnya, Doli juga perlu lebih sering turun ke masyarakat akar rumput dan meningkatkan pola komunikasinya.
"Termasuk, kalau ada pesan WhatsApp yang masuk mesti segera dibalas," ujarnya.
Aktivis senior Fachry Ali menilai Ahmad Doli Kurnia dapat menjadi figur yang memberi pegangan di tengah dinamika politik yang penuh ketidakpastian.
"Di tengah politik praktis yang terasa seperti teka-teki, publik membutuhkan tonggak yang kuat. Salah satunya adalah Ahmad Doli Kurnia Tandjung," kata Fachry.
Selain testimoni, acara juga dimeriahkan sesi roasting yang melibatkan sejumlah aktivis, akademisi, dan praktisi, di antaranya Bursah Zarnubi, Hendri Satrio, Akbar Faisal, Setiyardi Budiono, Mardani Ali Sera, Syukur Mandar, Syahganda Nainggolan, Titi Anggraini, Feri Amsari, Budiman Tanuredjo, Arifin Iskandar, dan Rocky Gerung.
Salah satu momen yang paling mengundang gelak tawa datang dari Rocky Gerung. Menurutnya, kesediaan seseorang untuk di-roasting menunjukkan keterbukaan terhadap kritik dan keberanian menerima pandangan yang berbeda.
"Kalau ada seseorang yang mau di-roasting, itu artinya dia masih punya akal sehat dan keberanian menerima kritik," ujar Rocky.
Pada sesi tersebut, Rocky juga melontarkan berbagai kepanjangan akronim MBG yang memancing tawa para hadirin.
Jika sebelumnya MBG kerap dikaitkan dengan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia, kali ini muncul berbagai variasi baru. Namun, huruf "G" tetap bermuara pada kata "Golkar", sementara huruf "B" dimaknai beragam, antara lain "Bersama" hingga "Bersih-Bersih".
Jurnalis senior Budiman Tanuredjo turut mengapresiasi konsistensi Ahmad Doli Kurnia dalam menulis. Hingga kini, Doli telah menerbitkan 14 judul buku.
"Kita membutuhkan politisi seperti Ahmad Doli Kurnia, yang tidak hanya aktif di parlemen tetapi juga produktif menyampaikan gagasan melalui tulisan," kata Budiman.
Acara ditutup dengan peluncuran empat buku terbaru karya Ahmad Doli Kurnia. Dalam kesempatan itu, Doli berharap buku-buku tersebut dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengisi acara, para roaster, serta rekan-rekan aktivis yang telah memberikan testimoni dan masukan.
"Terima kasih atas semuanya. Saya merasa sekarang dan ke depan tetap menjadi aktivis. Manusia harus bersedia menerima kritik dan saran. Artinya, saya ingin menjadi orang yang tidak antikritik dan selalu terbuka," kata Ahmad Doli Kurnia.
Menurutnya, ADK Show bukan sekadar ajang reuni, tetapi juga menjadi ruang refleksi pribadi.
"Masukan-masukan ini sangat berharga bagi saya. Karena itu, saya berterima kasih kepada keluarga besar aktivis," ujarnya.