• BUMN

Perpustakaan Danantara Resmi Hadir di Museum Nasional Indonesia

M. Habib Saifullah | Minggu, 27 Sep 2026 12:39 WIB
Perpustakaan Danantara Resmi Hadir di Museum Nasional Indonesia Perpustakaan Danantara (Foto: Antara)

Indonesiainfo.id - Danantara Indonesia Trust bersama Museum dan Cagar Budaya, dan Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) meresmikan Perpustakaan Danantara di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Perpustakaan ini diharapkan tak hanya menjadi ruang baca, namun juga pusat pembelajaran dan riset tentang sejarah serta budaya Indonesia.

Perpustakaan yang berlokasi di lantai 2 Gedung B Museum Nasional Indonesia ini terbuka bagi masyarakat. Kehadirannya merupakan kolaborasi Danantara Indonesia Trust bersama Museum dan Cagar Budaya untuk memperluas akses terhadap pengetahuan sekaligus memperkuat literasi budaya.

Perpustakaan Danantara dirancang sebagai Open Access Knowledge Hub yang menghubungkan budaya, pendidikan, dan pembelajaran publik. Inisiatif ini merupakan bagian dari mandat Danantara Indonesia Trust dalam bidang pendidikan dan budaya, untuk menghadirkan ruang belajar yang inklusif dan relevan bagi berbagai kalangan.

Ketua Danantara Indonesia Trust Nuraini Razak, menyebut, ruang belajar seperti ini penting untuk memperluas kesempatan bagi generasi mendatang dalam mengembangkan pengetahuan dan memahami identitas budaya Indonesia.

"Jadi Danantara Indonesia Trust memberikan hibah ke Museum dan Cagar Budaya untuk pembangunan perpustakaan ini. Kami mempunyai tiga fokus pilar, yaitu kesehatan, pendidikan, dan salah satunya kebudayaan, juga air sanitasi dan kesehatan," ujar Nuraini, dalam program Metro Siang Metro TV, Sabtu, 26 September 2026.

Perpustakaan Danantara memiliki lebih dari 8.000 buku dengan koleksi kebudayaan Indonesia dan internasional, hikayat sastra lama, hingga inventaris museum. Koleksinya juga mencakup buku-buku langka dan dokumen bersejarah, termasuk arsip Bataviaasch Genootschap terbitan era kolonial hingga Serat Centhin.

Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengatakan, perpustakaan ini juga diharapkan berkembang menjadi perpustakaan riset dengan koleksi yang tidak ditemukan di perpustakaan lain.

"Karena museum ini berdiri pada 1778. Jadi ini termasuk museum yang paling tua di wilayah Asia Tenggara," kata Fadli Zon.

Perpustakaan ini juga dilengkapi dengan sistem SLiMS dan Online Public Access Catalog (OPAC) yang memungkinkan pengunjung menelusuri koleksi secara digital. 

Namun, mengingat sebagian koleksi merupakan buku langka dan dokumen bersejarah, akses pengunjung diatur dalam sesi per jam. Setiap sesi dapat diisi dari 18 hingga 20 orang. Koleksi buku hanya dapat dibaca di tempat, tidak untuk dipinjam atau dibawa keluar.

Perpustakaan ini diharapkan dapat semakin memperkuat peran Museum Nasional Indonesia sebagai ruang pengetahuan dan pembelajaran budaya. Sekaligus mendukung tugas dan fungsi museum dan cagar budaya dalam mengelola, mengembangkan, dan memanfaatkan warisan budaya untuk kepentingan masyarakat.