Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. (Sumber Humas Kemenkeu)
Jakarta, Indonesiainfo.id - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengajak seluruh profesi keuangan bekerja secara profesional, guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang telah mampu tumbuh kuat di angka 5,44 persen secara year-on-year (yoy) pada kuartal-II 2022.
Menurutnya, hal itu merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa, terutama di tengah maraknya kontraksi ekonomi yang kerap terjadi di beberapa negara lainnya di dunia. Efek positif pertumbuhan ekonomi tersebut, kata Menkeu, tentunya tidak terlepas dari kerja keras pemerintah dan seluruh stakeholders termasuk para pelaku profesi keuangan.
"Menjaga ekonomi Indonesia tidak mudah, untuk itu saya mengajak seluruh profesi keuangan untuk ikut sama-sama menjaga sektor keuangan dengan bersikap waspada dan profesional," kata Sri Mulyani dalam telekonferensi, Senin (10/10).
Menkeu menjelaskan, perkembangan dunia yang akan sangat bergejolak atau volatile saat ini dan ke depannya, tentu perlu diwaspadai bersama. "Namun tidak berarti kita gentar," ujarnya.
Selain itu, Sri Mulyani juga mengingatkan pentingnya membangun kesadaran tentang pembangunan ekonomi berkelanjutan. Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan telah dan sedang terus diupayakan oleh negara di berbagai belahan dunia, termasuk oleh Indonesia.
The 17 Sustainable Development Goals yang digagas oleh PBB di tahun 2015, menurut Sri Mulyani merupakan perwujudan dari komitmen terhadap sustainability secara ringkas yang terbagi menjadi tiga pilar. "Ketiganya diupayakan untuk terintegrasi dalam setiap kebijakan yang diambil oleh negara, yaitu pilar sosial, pilar lingkungan, dan pilar ekonomi," kata Menkeu.
Perkembangan ekonomi digital dan ekonomi berkelanjutan, lanjut Sri Mulyani, merupakan suatu hal yang harus disambut dengan tangan terbuka, dan diharapkan dapat meningkatkan perekonomian secara menyeluruh.
"Sebagai profesional di bidang keuangan yang telah berubah sangat banyak, maka profesi keuangan perlu terus membekali diri dengan pengetahuan dan ilmu yang terus berubah, terutama akibat perubahan di sektor keuangan itu sendiri, teknologi digital, maupun tantangan baru seperti climate change," ujarnya.