• EKSEKUTIF

Alasan Menkominfo Terbitkan SE Pedoman Etika AI

Syafira | Sabtu, 23 Des 2023 15:02 WIB
Alasan Menkominfo Terbitkan SE Pedoman Etika AI Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Budi Arie Setiadi. (Foto: Kominfo)

Jakarta, Indonesiainfo.id - Popularitas penggunaan dan pemanfaatan ekosistem teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan arifisial di Indonesia mendorong Pemerintah menghadirkan Pedoman Etika penggunaan AI agar lebih aman dan produktif.

Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi menyatakan, upaya tersebut telah diwujudkan melalui penerbitan Surat Edaran Menteri Kominfo Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial.

“Tata kelola AI semakin diperlukan agar pemanfaatan AI dapat dilakukan secara aman dan produktif,” kata Budi Arie dikutip dari Siaran Pers Penerbitan SE AI, Sabtu (23/12).

Menkominfo menyatakan surat edaran tersebut tidak mengikat secara hukum, namun jika ada penyalahgunaan teknologi atau data pribadi, tentu akan mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) beserta perubahannya dan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP).

“SE tidak terikat secara hukum, tapi tetap tunduk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku (UU ITE dan UU PDP),” ujarnya.

Menurut Menteri Budi Arie Pedoman AI juga merespons intensitas dan utilisasi yang membawa nilai ekonomi makin signifikan.

Berdasarkan data Kearney & Cset, lanjut Menkominfo Budi, nilai pasar global AI di Tahun 2023 mencapai USD142,3 Miliar. "Sedangkan di ASEAN pada Tahun 2030 AI diperkirakan akan berkontribusi pada PDB ASEAN hingga angka USD1 Triliun, dimana USD366 Miliar diantaranya adalah kontribusi dari Indonesia," ujarnya.

Menkominfo menjelaskan aspek lain dari penggunaan dan pemanfaatan AI di Indonesia sangat berdampak pada dunia kerja. Menurutnya, berdasarkan data Kompas Tahun 2023 ditemukan bahwa 26,7 juta tenaga kerja mengimplementasikan penggunaan teknologi AI.

“Pada tahun 2021 tercatat sebanyak 26,7 juta tenaga kerja memanfaatkan AI dalam melakukan pekerjaannya. Namun, kehadiran AI juga membawa berbagai tantangan mulai dari bias, halusinasi AI, disinformasi, hingga ancaman hilangnya beberapa sektor pekerjaan akibat otomasi AI,” ungkapnya.