• EKSEKUTIF

Wamenhan Tanggapi soal Pengadaan Alutsita Baru oleh Prabowo

Eko Budhiarto | Minggu, 14 Jan 2024 13:44 WIB
Wamenhan Tanggapi soal Pengadaan Alutsita Baru oleh Prabowo Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) RI M. Herindra menjadi narasumber dalam diskusi bertajuk Membangun Kekuatan Pertahanan di Kawasan Regional, di Media Center Indonesia Maju, Jakarta, Jumat (12/1)

Jakarta, Indonesiainfo.id - Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) RI M. Herindra, baru-baru ini, memberikan tanggapanya terkait pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) baru dan yang pernah digunakan oleh negara lain alias bekas di Kementerian Pertahanan (Kemhan).

Ia menekankan bahwa selama memimpin di Kemhan, Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto selalu mengadakan diskusi dengan TNI terkait performance prajurit, kebutuhan alutsista TNI dan pembangunan industri pertahanan dalam negeri.

“Ada beberapa yang harus segera kita perbaiki. Beberapa alat perang kita usianya sudah cukup tua. Untuk itu Kemhan terus berupaya keras agar performa TNI kita optimal. Kita akan berupaya untuk melakukan yang terbaik,” ujar Herindra dikutip dari laman resmi Kemhan, Minggu (14/01).

Hal tersebut disampaikan Herindra saat menjadi narasumber dalam diskusi bertajuk `Membangun Kekuatan Pertahanan di Kawasan Regional`, di Media Center Indonesia Maju, Jakarta, Jumat (12/1) lalu.

Dalam kesempatan itu, Herindra menilai membeli alutsista baru membutuhkan waktu yang lama atau tidak instan. Seperti pengadaan 42 unit pesawat tempur Rafale yang dilakukan oleh Menhan Prabowo.

“Pesawat baru itu akan datang dan combat ready tujuh tahun yang akan datang. Oleh karena itu di saat tidak ada perang, maka kita gunakan untuk membangun kekuatan pertahanan negara,” ujarnya.

Herindra menyebut, pembelian pesawat tempur bekas merupakan jalan pintas atau sebagai opsi menunggu kekosongan, misalnya Mirage 2000-5 bekas Angkatan Udara Qatar.

“Dalam menunggu yang baru, kekosongan yang lowong ini diisi. Ini bukan masalah bekas dan baru, tetapi apakah alat perang pesawat masih layak pakai atau tidak. Pak Menhan concern membeli alat perang baru, tetapi saat ini kita melihat ada kekosongan dan ada beberapa yang harus diadakan secara cepat sehingga kalau mau beli baru tidak secepat dan semudah itu, tidak mudah pengadaan alat perang, punya uang pun belum tentu bisa beli,” kata Herindra dikutip Antara.