• EKSEKUTIF

Ratakan Akes Listrik di Indonesia, Pemerintah Butuh Anggaran Rp22,08 Triliun

Eko Budhiarto | Jum'at, 19 Jan 2024 10:41 WIB
Ratakan Akes Listrik di Indonesia, Pemerintah Butuh Anggaran Rp22,08 Triliun Ilustrasi daya listrik untuk rakyat. (Istimewa)

Jakarta, Indonesiainfo.id - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mengupayakan pemenuhan rasio elektrifikasi (RE) dan rasio desa berlistrik (RD) hingga 100%, untuk pemerataan akses listrik sampai ke pelosok negeri. Ditargetkan RE dapat mencapai 100% hingga tahun 2025.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Jisman P. Hutajulu menyampaikan, hingga akhir tahun 2023, realisasi rasio RE mencapai 99,78%, sedangkan rasio RD sebesar 99,83%. Meski demikian, untuk mengejar RE 100%, hingga tahun 2025 dibutuhkan anggaran sebesar Rp22,08 triliun.

"Kami sudah hitung bersama PLN, kita sudah konsinyiring 3 hari 3 malam untuk menghitung berapa sih kebutuhan anggaran untuk menyelesaikan 100% RE dalam 2 tahun ke depan, sampai 2025 ada Rp22,08 triliun," kata Jisman dilansir Jumat (19/1/24).

Dari sekitar Rp22 triliun tersebut, lanjut Jisman, akan difokuskan menjadi tiga hal, yaitu dengan perluasan jaringan yang mencapai porsi 55,59%. Kemudian pembangunan pembangkit komunal dengan porsi 44,33%, pada umumnya menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ditambah baterai, dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) sebesar 1,3 MW di 20 lokasi.

"Kita akan lakukan perluasan jaringan nanti, tapi jika jaringan PLN masih jauh kita nanti upayakan menggunakan energi setempat pembangkit komunal untuk memperkuat menggunakan baterai," ujarnya.

Selain itu akan diterapkan program dari Ditjen EBTKE Kementerian ESDM yaitu APDAL (Alat Penyalur Daya Listrik) dan SPEL (Stasiun Pengisian Energi Listrik) yang diperuntukkan di daerah yang sulit dijangkau, dengan porsi 0,08%.

Lebih lanjut, Jisman mengatakan dari jumlah RE yang mencapai 99,78% pada tahun 2023, sebanyak 98,32% listriknya berasal dari listrik PLN, dan 1,46% sisanya berlistrik non-PLN, seperti dari program-program Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE), maupun program dari Kementerian lain menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk di remote area.

"Namun, ke depan kita menginginkan supaya lebih sustain dan lebih andal ini kelistrikan di rumah tangga, termasuk di remote area itu, agar dilayani oleh PLN. Karena pelayanan PLN itu akan lebih baik daripada yang swakelola," katanya.

Selain itu, dengan menikmati jaringan listrik dari PLN, masyarakat yang tidak mampu khususnya yang berada di wilayah timur Indonesia juga bisa menikmati subsidi listrik yang sama dengan masyarakat lainnya serta menerima haknya sebagai warga negara. Sementara apabila menggunakan listrik yang berasal dari swakelola atau non-PLN, tidak ada subsidinya.

Adapun, hingga akhir Desember 2023, jumlah rumah tangga belum berlistrik diproyeksikan sebanyak 185.662 rumah tangga. Sementara sebanyak 140 desa belum dialiri listrik. Dari jumlah tersebut, 12 desa di Provinsi Papua Barat Daya, 9 desa di Papua, 56 desa di Papua Pegunungan, 47 desa di Papua Tengah, dan 16 desa di Papua Selatan.