• EKSEKUTIF

Kemendag Terus Genjot Ekspor Produk Pangan

Eko Budhiarto | Minggu, 11 Feb 2024 20:02 WIB
Kemendag Terus Genjot Ekspor Produk Pangan Gedung Kementerian Perdagangan (Kemendag) Republik Indonesia. (Foto: Ist)

Jakarta, Indonesiainfo.id - Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus berupaya menggenjot ekspor produk pangan ke pasar global. Caranya, memastikan keamanan pada produk yang dijual para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui berbagai program dan inisiatif.

Hal ini disampaikan Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga saat menghadiri kegiatan Bina Masyarakat Calon Eksportir bertajuk `Urgensi Pemenuhan Food SafetyRegulationuntuk Produk Pangan Ekspor` di Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, Sabtu (10/2).

‘‘Kementerian Perdagangan mendukung penuh upaya ekspor produk pangan ke pasar global.Strategi yang komprehensifdiperlukan untuk menggenjotekspor pada 2024 ini.Strategi ini meliputi diversifikasi produk ekspor, peningkatan kualitas dan keamanan produk, sertaperluasan pasar ekspor ke negara-negara nontradisional,” imbuh Wamendag Jerry.

Wamendag Jerry menyatakan, Kemendag memiliki program pendampingan dan sertifikasi Analisis Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis (Hazard Analysis and Critical Control Point/HACCP) untuk UMKM ekspor di bidang pangan. Program ini telah berjalan sejak 2020.

Rencananya, lanjut Jerry, sebanyak 12 UMKM ekspor sektor pangan akan mendapatkan pendampingan dan sertifikasi HACCP pada 2024 ini. Sertifikasi HACCP dibutuhkan dalam upaya peningkatan kualitas dan keamanan produk pangan ekspor.

HACCP adalah sebuah sistem yang bertujuan untuk memastikan keselamatan konsumen dalam mengonsumsi makanan. HACCP meminimalkan risiko kesehatan yang berkaitan dengan konsumsi makanan dan meningkatkan kepercayaan akan keamanan makanan olahan sehingga dapat mempromosikan perdagangan dan stabilitas usaha makanan.

Wamendag Jerry menekankan,pentingnya menjaga kualitas, keamanan,dan keberlanjutanproduk sebagaikuncidaya saing produk ekspor ke pasar global. Selain itu, memperluas jangkauan pemasaran produk dengan memanfaatkan peluang pasar nontradisional juga menjadi keniscayaan dalam keberhasilanmengembangkan ekspor.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD 36,93 miliar sepanjang 2023. Nilai ekspor Indonesia pada periode Januari-Desember 2023 mencapai USD 258,82 miliar, sedangkan nilai impornya sebesar USD 221,89 miliar.

Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Miftah Farid menyampaikan, keamanan pangan sangatlah penting untuk penetrasi dan akses ke pasar internasional. Keamanan pangan juga dapat menciptakan reputasi yang baik terhadap produk dan perusahaan dalam jangka panjang.

“Regulasi keamanan pangan saat ini telah menjadi salah satu perhatian di pasar global. Urgensi keamanan pangan meningkat seiring penolakan atas pengiriman ekspor yang tidak memenuhi persyaratan keamanan pangan. Hal ini mengakibatkan pemeriksaan yang lebih ketat padanegara pengimpor dan biaya transaksi perdagangan juga ikutmeningkat,” ujarnya.

Miftah menambahkan, selain dari sisi nilai tambah dan daya saing produk ekspor, Kemendag juga selalu berupaya memfasilitasi para pelaku usaha dengan membuka akses pasar melalui kerja sama perundingan perdagangan di forum internasional.

Saat ini, lanjut Miftah, Indonesia telah berhasil menandatangani dan mengimplementasikan 37 perjanjian perdagangan, 15 perjanjian perdagangan sedang dalam proses perundingan,dan 16 perjanjian perdagangan lainnya dalam tahap penjajakan.

“Melalui kerja samaperundingan perdagangan internasional, akses pasar akan lebih terbuka dan pemanfaatan sumber daya diharapkan akan lebih optimal untuk meningkatkan ekspor.Semua ini bertujuan untuk memberikan peluang lebih luas kepada para pelaku usaha dalam mengembangkan produk ke pasar internasional,” pungkasnya.