Menteri Investasi/BKPM, Bahlil Lahadalia. (Foto: Ist)
Jakarta, Indonesiainfo.id - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa pemerintah sangat serius untuk menjaga pembangunan di Papua, utamanya terkait hilirisasi.
Pasalnya, Papua tidak lagi dapat mengandalkan otonomi khusus (otsus). Hal itu Bahlil sampaikan dalam dialog dengan para mahasiswa Indonesia asal Papua di Melbeourne pada Minggu (12/5/24) waktu setempat.
"Adik-adik kuliah baik-baik karena apa, Papua masa depannya akan dibangun. Tidak bisa terus mengandalkan otsus, kalau tidak bisa mengelola anggaran. Dana otsus ini hanya afirmatif kepada orang Papua, supaya bisa sejajar dengan saudara-saudaranya di wilayah lain," ujar Bahlil dikutip dari laman resmi BKPM.
Ke depan, agar Papua bisa maju, pemerintah mengembangkan hilirisasi, salah satunya rencana pembangunan smelter PT Freeport di Papua.
"Dengan pemerintah nantinya menguasai 61% saham Freeport, pembangunan smelter di Papua makin terbuka," ujarnya.
Selain pembangunan pabrik pupuk di Papua, pemerintah juga akan mengembangkan industri gula dan etanol dari tebu. Pemerintah baru saja membentuk Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Swasembada Gula dan Bioetanol di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan.
Pembentukan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 15 Tahun 2024 yang ditandatangani Presiden RI Joko Widodo pada tanggal 19 April 2024 di mana Menteri Investasi ditunjuk sebagai Ketua Satuan Tugas-nya.
Bahlil mengatakan percepatan hilirisasi di Papua ini, tidak lepas dari upaya pemerintah menciptakan lapangan kerja bagi mahasiswa-mahasiswa Papua baik di dalam maupun di luar negeri.
Dia mencontohkan sejumlah daerah yang mengembangkan hilirisasi seperti Morowali dan Halmahera telah menciptakan lapangan kerja yang luas di wilayah itu, termasuk Sorong.
"Sorong luar biasa maju. Kawasan ekonomi khusus untuk bersaing dengan kawasan industri di Maluku Utara. Di Sorong didorong pupuk dan blue ethanol di Bintuni. Demikian juga di Nabire blok eks Freeport."
"Semua bisa dilakukan kalau kita siap. Prospek bagus untuk Papua. Teman-teman di luar negeri bisa balik atau tinggal sementara di sini cari pengalaman dulu untuk menginspirasi teman-teman di Papua sana. Setelah pengalaman ada, balik dan kerja," ujar Bahlil.