• EKSEKUTIF

Kominfo Ajak Tingkatkan Keamanan Siber

Agus Mughni Muttaqin | Jum'at, 31 Mei 2024 10:09 WIB
Kominfo Ajak Tingkatkan Keamanan Siber Wakil Menteri Kominfo, Nezar Patria dalam Fortinet Accelerate Asia 2024 di Fairmont, Jakarta, mengajak semua pihak agar meningkatkan keamanan siber pada sektor digital (Foto Kominfo)

INDONESIAINFO.ID - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI mengajak semua pihak untuk meningkatkan keamanan siber di semua sektor digital. Kominfo menyebut terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan untuk meningkatakan keamanan siber di tengah transformasi digital.

“Penting bagi kita semua untuk terus meningkatkan keamanan siber di tengah agenda transformasi digital yang terus berkembang,” ujar Wakil Menteri Kominfo, Nezar Patria dalam Fortinet Accelerate Asia 2024 di Fairmont, Jakarta Pusat, Kamis (30/5/2024).

Menurut Wamenkominfo, salah satu cara untuk meningkatkan keamanan siber ialah dengan menutup celah keamanan pada postur keamanan siber di lingkungan yang terkoneksi jaringan digital dan selalu up-to-date dengan kemajuan teknologi.

“Termasuk Generative AI untuk meningkatkan keamanan dan ketahanan operasional serta terus meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk mencegah serangan siber,” ujarnya.

Wamen Nezar Patria mencatat risiko keamanan siber global meningkat dari 40% di Tahun 2019 menjadi lebih dari 77% pada Tahun 2023. Sementara, sesuai data Google M-Trends Tahun 2024, sektor keuangan menjadi salah satu sektor yang rentan dari serangan siber.

“Dalam lanskap nasional, ekosistem keamanan siber kita masih perlu diperkuat. Di tahun 2023, Indonesia menempati peringkat 48 dari 176 negara pada indeks keamanan siber dengan nilai 63,64 dari 100. Di Asia Tenggara, Indonesia pun baru menduduki peringkat 5 dari 10 negara,” ujarnya.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat Indonesia sebagai sumber dan tujuan utama anomali keamanan siber.

Menurut Wamenkominfo, anomali tersebut berdampak pada penurunan performa perangkat dan jaringan dan berpotensi menimbulkan pencurian data hingga penurunan reputasi dan kepercayaan terhadap suatu organisasi.

“BSSN juga mendeteksi 103 dugaan kebocoran data selama 2023, dengan puncaknya 20 kasus pada bulan Maret dan 15 kasus pada bulan Desember,” ujarnya.