• BUMN

Pupuk Indonesia-MIT Kerja Sama Ketahanan Pangan

Agus Mughni Muttaqin | Jum'at, 14 Jun 2024 15:30 WIB
Pupuk Indonesia-MIT Kerja Sama Ketahanan Pangan Pupuk Indonesia bekerja sama dengan Massachusetts Institute of Technology Industrial Liaison Program (MIT-ILP) untuk mewujudkan ketahanan pangan (Foto: Kementerian BUMN)

INDONESIAINFO.ID - PT Pupuk Indonesia (Persero) menjain kerja sama internasional dengan Massachusetts Institute of Technology Industrial Liaison Program (MIT-ILP) untuk mewujudkan ketahanan pangan di Tanah Air.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi mengatakan, kerja sama dengan institut teknologi berkelas dunia itu, juga ditujukan dalam rangka menjaga budaya inovasi, dan memperkuat Pupuk Indonesia sebagai pemain utama industri pupuk di tingkat global.

"Kolaborasi dengan MIT-ILP diharapkan dapat meningkatkan peran Perusahaan dalam ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi nasional melalui inovasi dan transformasi bisnis," ujar Rahmad dikutip Jumat (14/6/2024).

Hal itu ia sampaikan pada ajang Pupuk Indonesia Innovation Award (PIIA) Summit 2024. PIIA merupakan ajang inovasi, berbagi pengetahuan dan pemberian apresiasi kepada Insan Pupuk Indonesia yang telah berkontribusi atas inovasi.

Pada ajang tersebut tercatat 169 inovasi menghasilkan kontribusi pendapatan dan penghematan senilai Rp 1,3 triliun.

Rahmad Pribadi menuturkan bahwa nilai Rp 1,3 triliun merupakan kontribusi inovasi ini terdiri dari Rp 1,2 triliun berasal dari peningkatan efisiensi atau penghematan dan Rp 0,1 triliun berasal dari peningkatan revenue.

“Alhamdulillah di tahun 2024 ini berdasarkan buku 2023 Pupuk Indonesia menduduki posisi nomor tujuh terbesar dunia di industri fertilizer. Tentu ini tidak lepas dari inovasi yang mempunyai direct impact pada profitability,” ujarnya.

Adapun inovasi yang berhasil menjadi Grand Champion dalam konvensi inovasi PIIA Summit 2024 ini diraih oleh Gugus Inovasi Rekan-iPubers.

Inovasi ini berhasil memperbaiki tata kelola penyaluran pupuk bersubsidi melalui pengembangan dan implementasi aplikasi digital terintegrasi di kios-kios Pupuk Indonesia yang jumlahnya mencapai 27.000 kios dan tersebar di seluruh Indonesia.

Inovasi berbasis digital ini berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) ini berhasil memberikan kemudahan bagi petani terdaftar untuk menebus pupuk bersubsidi.

“Paling penting ajang ini bukan ajang menang-menangan, tapi kolaborasi. Dalam bisnis ada namanya CQ (Collaboration Quotient), kemampuan kita untuk bisa duduk mendiskusikan sesuatu dengan orang yang mempunyai cara berpikir berbeda. Nah ini ajang yang paling tepat,” ujarnya.

Rahmad pun berharap, persistensi dalam ekosistem inovasi Pupuk Indonesia dapat dijaga, sehingga dapat mendukung perusahaan sebagai penopang ketahanan pangan nasional dan penopang pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

“Tanpa inovasi, yakin dan percayalah tidak ada perusahaan yang bisa survive. Jangan bicara berkembang, survive saja tidak mungkin kalau tidak ada inovasi. Hanya dengan inovasi Pupuk Indonesia bisa meraih masa depan lebih baik,” ujarnya.