• NEWS

Bakteri Pemakan Daging Merebak di Jepang, Indonesia?

M. Habib Saifullah | Kamis, 27 Jun 2024 17:29 WIB
Bakteri Pemakan Daging Merebak di Jepang, Indonesia? Ilustrasi bakteri pemakan daging (Foto: Unsplash/CDC)

INDONESIAINFO.ID - Jepang saat ini tengah dilanda infeksi sindrom syok toksik streptokokus (STSS), yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pyogenes kelompok A. Hingga kini, kasus STSS di Jepang telah mencapai lebih dari 1.000 orang.

Bakteri ini dijuluki `pemakan daging` karena dapat menghacurkan kulit, lemak dan jaringan sekitar otot dalam waktu singkat. Penularan STSS terjadi melalui pernapasan dan droplet (percikan ludah atau lendir) dari penderita.

“Kalau sampai saat ini di Indonesia belum ada laporan ya untuk kasus bakteri `pemakan daging`,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, dr. Siti Nadia Tarmizi.

Namun, dr. Nadia mengatakan, pihaknya akan terus memantau situasi melalui surveilans sentinel Influenza Like Illness (ILI) – Severe Acute Respiratory Infection (SARI) dan pemeriksaan genomik.

Kasus STSS yang dilaporkan di Jepang, umumnya kasus di rumah sakit yang disebabkan bakteri streptokokus yang biasanya muncul dengan gejala faringitis atau peradangan pada tenggorokan atau faring.

Infeksi STSS bisa berakibat fatal karena pasien dapat mengalami sepsis dan gagal multiorgan. Namun, penyebabnya secara pasti masih belum diketahui karena gejala STSS biasanya ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu singkat.

Jepang telah melaporkan kasus infeksi streptokokus dalam sistem notifikasi surveilans sejak 1999. Pada 2023, terdapat 941 kasus, dan angka ini meningkat menjadi 977 kasus pada Juni 2024.

Meskipun mengkhawatirkan, tingkat penyebaran STSS jauh lebih rendah dibandingkan dengan COVID-19. Masyarakat diimbau untuk tetap menerapkan perilaku hidup sehat, menggunakan masker saat sakit, dan membiasakan mencuci tangan secara rutin.

Pengobatan STSS dilakukan dengan pemberian antibiotik. Hingga saat ini, belum ada vaksin khusus untuk mencegah infeksi bakteri `pemakan daging` ini.

Hingga saat ini, tidak ada pembatasan perjalanan dari dan menuju ke Jepang terkair dengan STSS.