• EKSEKUTIF

Menlu Retno Tegaskan Indonesia Masih Bersama Palestina

M. Habib Saifullah | Senin, 23 Sep 2024 07:46 WIB
Menlu Retno Tegaskan Indonesia Masih Bersama Palestina Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi (kanan) bersama Komisioner Jenderal (Komjen) UNRWA, Philippe Lazzarini (kiri) (Foto: Dok. Kemlu)

INDONESIAINFO.ID - Konflik berkepanjangan yang terjadi antara Palestina dan Israel hingga saat ini masih belum usai. Menteri Luar Negeri Republik Indonesi (Menlu RI) Retno Marsudi menegaskan posisi Indonesia masih bersama Palestina.

Untuk itu, Menlu Retno melakukan pertemuan bilateral dengan Komisioner Jenderal (Komjen) the United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugee in the Near East (UNRWA), Philippe Lazzarini.

di sela-sela High Level Week (HLW) 79th UN General Assembly (UNGA) pada (22/9). Pertemuan membahas perkembangan situasi kemanusiaan yang semakin memburuk di Palestina, serta dukungan bantuan kemanusiaan Indonesia melalui UNRWA.

"Saya hadir di pertemuan Core Group Menlu OKI untuk mendorong pemanfaatan Majelis Umum PBB untuk menggalang dukungan dalam upaya memperbaiki situasi di Palestina, termasuk melalui UNRWA," kata Menlu Retno dalam keterangannya, dikutip di Jakarta, Senin (23/9/2024).

Menlu Retno menyampaikan, dukungan Indonesia terhadap mandat UNRWA dalam penanganan pengungsi Palestina. Tidak hanya terhadap pengungsi, namun juga posisi UNRWA juga strategis dalam pemulihan Palestina pasca konflik.

Sebagai bentuk komitmen dukungan, Pemerintah Indonesia telah meningkatkan bantuan pendanaan kepada UNWRA sebesar tiga kali lipat pada tahun 2023, dan pada tahun ini, kembali melipatgandakan kontribusinya hingga mencapai USD 1,2 juta.

Selain itu ialah dengan mendorong pendanaan inovatif untuk memperkuat UNRWA, salah satunya menjajaki kerja sama dengan Badan Zakat Indonesia (Baznas) untuk penambahan penyaluran bantuan ke UNWRA. Sejak November 2023, Baznas telah mendistribusikan sekitar USD 3,3 juta untuk masyarakat Palestina.

Sementara itu, Komjen Lazzarini menyampaikan bahwa kondisi UNRWA saat ini yang mengalami tekanan finansial, dengan banyaknya negara yang membekukan pendanaannya serta adanya kampanye negatif di media yang menuduh UNRWA sebagai organisasi teroris.

"Hingga saat ini, lebih dari 250 pekerja kemanusiaan, termasuk staf kemanusiaan UNRWA telah terbunuh dan sekitar 2/3 bangunan UNRWA mengalami kerusakan di Gaza," kata Lazzarini.