Menag Nasaruddin Umar saat memberikan sambutan pada Rakernas (Foto: kemenag)
INDONESIAINFO.ID - Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan pesan penting saat memberikan sambutan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen di Jakarta.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan program Bimas Kristen di Kementerian Agama tidak sekadar diukur dari penghargaan atau pencapaian administratif, tetapi lebih pada sejauh mana umat semakin dekat dengan nilai-nilai keagamaannya.
"Kriteria utama bukan sekadar penghargaan atau pencapaian administrasi, tetapi seberapa mampu kita mendekatkan umat dengan ajaran agamanya. Jika umat semakin jauh dari ajaran agama, itu tanda kegagalan. Sebaliknya, jika semakin akrab dengan keyakinannya, maka itu yang diharapkan," ujar Nasaruddin di Jakarta, Jumat (21/3).
Selain itu, Menag juga menekankan pentingnya menjaga harmoni antarumat beragama sebagai bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia menilai bahwa isu kerukunan antarumat beragama di Indonesia sudah berkembang ke tahap yang lebih tinggi, bukan lagi sekadar menghindari konflik.
“Persoalan kerukunan umat beragama sudah bukan lagi isu utama yang perlu diperjuangkan. Indonesia telah menunjukkan keberhasilannya dalam merawat keberagaman. Memang masih ada kasus-kasus tertentu, tapi itu bisa diselesaikan secara spesifik. Kini, kita perlu naik kelas, mewujudkan harmoni makrokosmos, di mana manusia, alam, dan Tuhan hidup berdampingan,” kata Imam Besar Masjid Istiqlal ini.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa toleransi sejati bukan sekadar sikap saling menghormati atau tidak mengganggu satu sama lain. Toleransi harus diiringi dengan keterikatan emosional dan solidaritas yang nyata antarumat beragama.
“Toleransi bukan hanya sebatas ‘di sana aman, di sini aman, jangan saling mengganggu’. Itu baru tahap koeksistensi. Yang kita harapkan adalah toleransi sejati, di mana ada rasa saling mencintai dan memiliki satu sama lain,” tegasnya.
Di akhir sambutannya, Menag mengingatkan agar umat beragama tidak terjebak dalam dikotomi antara agama dan kebangsaan. Menurutnya, masyarakat Indonesia harus mampu memahami dan menjalankan ajaran agamanya tanpa kehilangan identitas kebangsaan.
"Kita tidak perlu menjadi Arab, India, Cina, atau Yerusalem. Kita bisa tetap menjadi orang Indonesia yang menjalankan ajaran agama dengan baik," tutupnya.