Menag Nasaruddin Umar (berjas hitam) saat melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Al Ikhlas Ujung Bone, Sulawesi Selatan (Foto: kemenag)
INDONESIAINFO.ID - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan kembali komitmennya dalam mendorong kemajuan pesantren di Tanah Air. Dalam kunjungannya ke Pondok Pesantren Al Ikhlas Ujung Bone, Sulawesi Selatan, pada Senin (7/4).
Menag menyampaikan tiga poin strategis: peningkatan kesejahteraan santri, modernisasi sistem pendidikan, dan penguatan peran pesantren dalam membumikan moderasi beragama.
Dalam pernyataannya, Menag menekankan pentingnya menjamin kebutuhan dasar para santri, khususnya asupan makanan. Ia mengungkapkan pesan orang tuanya agar kebutuhan pokok santri tidak pernah dibatasi, sebagai bentuk perhatian terhadap generasi penerus bangsa.
"Orang tua saya dulu berpesan, jangan pernah mengurangi makanan santri. Saya tidak ingin mereka mengalami kekurangan seperti yang pernah dirasakan anak-anak saya dulu," ujar Menag.
Ia juga berkisah mengenai pengalaman pribadinya saat menempuh pendidikan pesantren dalam kondisi ekonomi yang sulit. Karena itu, menurutnya, santri masa kini harus bisa belajar dengan tenang tanpa dibebani persoalan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Selain isu kesejahteraan, Menteri Agama juga menyoroti pentingnya inovasi di dunia pesantren. Ia mencontohkan Pesantren Al Ikhlas sebagai lembaga pendidikan berbasis pesantren yang telah mengadopsi pendekatan global dalam kurikulumnya, termasuk pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran.
“Pesantren perlu merespons perkembangan zaman. Teknologi informasi harus dimanfaatkan agar santri tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tapi juga memiliki daya saing global,” kata Menag.
Dalam konteks kebangsaan, Nasaruddin menekankan bahwa pesantren memiliki posisi vital dalam memperkuat nilai-nilai toleransi dan keberagaman. Ia mendorong agar lembaga pesantren menjadi garda terdepan dalam menyebarkan paham Islam yang moderat dan damai.
“Pesantren harus menjadi pelindung nilai-nilai kebhinekaan. Kita tidak ingin ada penyempitan tafsir agama yang justru merusak persatuan. Santri adalah agen harmoni,” tambahnya.
Menurut Nasaruddin, arah kebijakan Kementerian Agama saat ini adalah menjadikan pesantren sebagai pusat pendidikan holistik: mencakup aspek spiritual, karakter, keterampilan hidup, serta wawasan kebangsaan dan global. Ia memastikan pihaknya terus berupaya meningkatkan layanan terhadap pesantren, baik dari sisi anggaran maupun program pemberdayaan.
“Kami akan terus hadir untuk mendukung pesantren agar menjadi penggerak utama kemajuan nasional dan penjaga nilai-nilai kebangsaan,” pungkasnya.