sejarawan dan anggota aktif Komunitas Katolik Sant`Egidio, Valeria Martano, saat bertemu Menag Nasaruddin di Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin (Foto: Kemenag)
Indonesiainfo.id - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyambut baik tawaran kerja sama Komunitas Katolik Sant’Egidio yang berbasiss di Roma yang menyatakan komitmennya untuk memperkuat kerja sama lintas agama dalam membangun perdamaian global.
Tawaran kerja sama tersebut disampaikan sejarawan dan anggota aktif Komunitas Katolik Sant’Egidio, Valeria Martano, saat bertemu Menag Nasaruddin di Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin (21/4).
Dalam kesempatan itu, Menag juga mengapresiasi pendekatan Sant’Egidio dalam membangun perdamaian, termasuk dengan kelompok yang kerap dianggap sulit diajak dialog.
“Pendekatan Anda luar biasa. Kita perlu organisasi seperti Anda yang bisa menjangkau kelompok-kelompok yang tidak tersentuh,” tutur Menag Nasaruddin.
Menag menambahkan bahwa Pemerintah Indonesia, melalui Kemenag, sedang gencar mengarusutamakan moderasi beragama sebagai jalan tengah yang damai dan inklusif.
“Saya terbuka untuk semua inisiatif. Kita bisa mulai dengan menyelenggarakan pertemuan yang lebih teknis. Nanti bisa kita undang juga dari PKUB (Pusat Kerukunan Umat Beragama dan UIII (Universitas Islam Internasional Indonesia) untuk menjajaki bentuk kerja sama yang konkret,” katanya.
Menag juga menyebut UIII sebagai institusi akademik yang bisa menjadi platform kerja sama lintas iman. “Kami ingin menjadikan UIII sebagai ruang terbuka untuk pertemuan antarbudaya dan antaragama di tingkat global,” imbuhnya.
Sebelumnya, Valeria Martano kepada Menag Nasaruddin menyampaikan bahwa Komunitas Sant’Egidio sangat peduli dengan perdamaian.
"Kami ingin menjadi sahabat dalam kerja sama dan pembangunan perdamaian antaragama,” ujar Valeria Martano.
Dalam pertemuan tersebut, Valeria menyampaikan sejumlah agenda kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan oleh Sant’Egidio, baik di tingkat internasional maupun nasional, termasuk keterlibatan Indonesia.
“Sant’Egidio memiliki pengalaman panjang dalam membangun dialog, terutama di tempat-tempat yang mengalami konflik. Kami tidak menggantikan peran diplomasi, tapi kami bekerja dengan cara persahabatan, mendekati orang-orang yang tidak diajak bicara,” kata Valeria.