Menteri Agama, Nasaruddin Umar (Foto: kemenag)
Jakarta, Indonesiainfo.id - Menteri Agama, Nasaruddin Umar, hadir dalam acara bedah buku Penebar Benih Kebangsaan yang mengangkat sosok Pontjo Sutowo.
Acara ini diselenggarakan di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta, di mana Menag berbagi pengalaman pribadi serta kilas balik mengenai pertemuannya dengan Pontjo Sutowo. Pontjo, yang dikenal sebagai pengusaha sukses, juga dihormati sebagai intelektual dengan visi kebangsaan yang luas.
Menurut Menag, Pontjo Sutowo mengajarkan hal penting yang harus dikejar oleh bangsa Indonesia, yaitu kebermanfaatan ilmu dan karya untuk masyarakat.
“Seorang cendekiawan atau ilmuwan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi bertanggung jawab agar keilmuannya berdampak positif bagi lingkungannya,” ungkap Menag, Selasa (16/9/2025).
Lebih lanjut, Menag menjelaskan bahwa meskipun dikenal sebagai pebisnis, Pontjo juga merupakan seorang intelektual sejati. Ia berperan dalam membentuk kelompok yang menghimpun cendekiawan dari berbagai latar belakang, baik Muslim maupun non-Muslim, yang menjadi wujud komitmennya pada keragaman intelektual.
Salah satu sumbangsih besar Pontjo untuk PTIQ adalah inisiasinya dalam pendirian Fakultas Kebudayaan. “Agama tanpa budaya tidak akan terasa indah. Sejarah Islam di Indonesia juga membuktikan hal ini, seperti Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam melalui budaya lokal,” jelas Menag.
Selain itu, Menag turut menyinggung pandangan Pontjo tentang Pancasila. Bagi Pontjo, Pancasila lebih dari sekadar simbol negara, melainkan juga simbol budaya, agama, dan nilai sosial bangsa Indonesia.
“Pontjo melihat Pancasila sebagai melting point yang mampu menghimpun berbagai konfigurasi budaya di tanah air,” tambah Menag.
Pontjo Sutowo sendiri dikenal sebagai penggagas Festival Istiqlal. Ia menjabat sebagai Ketua Umum Badan Pelaksana Festival Istiqlal 1991, dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran umat Islam, dan kemudian menjadi Ketua Harian Festival Istiqlal pada periode berikutnya. Selain itu, Pontjo juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Al-Qur’an (YPA) yang menaungi PTIQ Jakarta.
“Kiprah beliau memberi teladan bahwa ilmu, budaya, dan agama dapat menyatu untuk memperkuat jati diri bangsa,” tutup Menag.