• LEGISLATIF

Legislator Minta Kesiapsiagaan Hadapi Nataru dan Cuaca Ekstrem

M. Habib Saifullah | Senin, 15 Des 2025 10:16 WIB
Legislator Minta Kesiapsiagaan Hadapi Nataru dan Cuaca Ekstrem Ilustrasi mudik libur natal dan tahun baru (Foto: Ist)

JAKARTA - Anggota Komisi V DPR RI Teguh Iswara Suardi mengatakan bahwa keselamatan masyarakat mesti menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan arus Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Dia menilai bahwa di tengah meningkatnya mobilitas dan ancaman cuaca ekstrem, negara tidak boleh lengah dan harus hadir secara nyata melalui sistem kesiapsiagaan yang terintegrasi dan responsif.

Ia mengapresiasi langkah Basarnas yang telah membentuk unit-unit siaga di tingkat kabupaten, terutama di wilayah yang rawan bencana. Namun, ia menekankan bahwa efektivitas unit tersebut akan jauh lebih optimal apabila diperkuat dengan koordinasi lintas sektor.

Demikian diungkapkanya usai melakukan pertemuan dalam Rangka Kunjungan Kerja Reses guna membahas strategi, program kerja dan upaya-upaya Pemerintah dalam mendukung keselamatan, kenyamanan dan keamanan masyarakat dalam melaksanakan libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Di Kota Makassar,Provinsi Sulawesi Selatan (14/12/2025).

“Akan jauh lebih efektif jika unit siaga Basarnas terintegrasi dengan Kementerian PUPR, perhubungan, dan kepolisian. Dengan koordinasi yang jelas, penanganan di lapangan bisa lebih cepat, tepat, dan terukur,” kata dia.

Politisi Dapil Sulawesi Selatan II itu juga menyoroti pentingnya kesiapan posko-posko terpadu yang telah ditetapkan berdasarkan analisis dan simulasi risiko. Menurutnya, posko tidak boleh sekadar menjadi formalitas, melainkan harus benar-benar siap melayani masyarakat dalam kondisi darurat.

“Posko itu bukan simbol. Harus dilengkapi fasilitas yang memadai, termasuk layanan kesehatan, khususnya bagi ibu hamil dan kelompok rentan. Ini menyangkut keselamatan nyawa,” ujar dia.

Selain kesiapsiagaan darurat, Teguh turut menyoroti persoalan kelelahan pengemudi yang kerap menjadi pemicu kecelakaan lalu lintas. Ia menilai keberadaan kantong-kantong parkir dan rest area sangat krusial, terutama di Pulau Jawa yang menjadi pusat pergerakan arus mudik dan balik Nataru.

“Pengemudi butuh ruang untuk berhenti dan beristirahat. Kantong parkir dan rest area ini bukan fasilitas tambahan, tapi kebutuhan mendasar untuk mencegah kecelakaan akibat kelelahan,” ujar dia.