Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza saat mengunjungi PT AKPI di Citeureup, Bogor (Foto: Humas Kemenperin)
Bogor, Indonesiainfo.id - Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, melakukan kunjungan kerja ke PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI) di Bogor pada Jumat (24/4).
Dalam pertemuan tersebut, pihak AKPI memberikan masukan langsung terkait industri plastik dan menegaskan bahwa pasokan bahan baku domestik tetap terjaga.
Mereka membantah isu kelangkaan bahan baku yang dikhawatirkan muncul akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Director PT AKPI, Jimmy Tjahjanto, menyampaikan bahwa industri memang sempat mengalami gangguan pasokan bahan baku pada awal konflik, terutama dari pemasok di Timur Tengah.
Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama karena perusahaan dengan cepat melakukan diversifikasi sumber bahan baku dari negara lain.
“Kita punya supplier dari Saudi setop. Tapi tidak lama, karena kita langsung beralih cepat. Kita juga punya supply dari ASEAN, China, Rusia. Kita bisa dengan cepat mengalihkan ke vendor-vendor tersebut. Karena itu selama perang Iran kami normal,” ujar Jimmy.
Jimmy menekankan bahwa produksi saat ini tetap berjalan normal karena pasokan bahan baku masih dapat diperoleh dari berbagai negara, termasuk China, Rusia, serta kawasan ASEAN seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia.
Namun, dia mengakui bahwa tekanan utama justru terjadi pada sisi harga.
“Harga tidak bisa dikendalikan. Sekarang 1.600-an dolar, hampir dua kali lipat. Kami masih pasok untuk customer domestik,” tambahnya.
Hal senada juga disampaikan Ketua Asosiasi Biaxially Oriented Films Indonesia (ABOFI), Santoso Samudra Tan. Menurut dia, persepsi kelangkaan bahan baku plastik dipicu oleh gangguan awal pasokan dari Timur Tengah serta pernyataan force majeure dari sejumlah pemasok, yang kemudian menimbulkan kekhawatiran berlebihan di pasar.
Dia menjelaskan, meskipun pasokan dari Timur Tengah terganggu, pelaku industri telah mengalihkan sumber bahan baku ke wilayah lain. Bahkan saat ini, China menjadi pemasok yang paling dominan karena akses energinya relatif tidak terdampak.
“Perlu digarisbawahi bahwa dampak yang paling terasa bagi industri hilir adalah kenaikan biaya, bukan kelangkaan bahan baku. Dari sisi ketersediaan, bahan baku masih relatif aman dan produksi tetap berjalan lancar,” ujar Santoso.
Dia juga mengingatkan agar narasi kelangkaan tidak mendorong kebijakan yang justru merugikan industri dalam negeri, seperti pembukaan keran impor produk jadi.
“Jika impor hanya berupa bahan baku seperti biji plastik masih dapat diterima. Namun, jika impor sudah mencakup produk jadi, maka ini berpotensi merugikan industri hilir dalam negeri yang sebenarnya masih memiliki kapasitas produksi yang memadai,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Wamen Riza menyampaikan bahwa pemerintah kini telah memperoleh gambaran langsung kondisi di lapangan, dan memastikan bahwa ketersediaan bahan baku plastik di dalam negeri masih dalam kondisi aman.
Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa hasil pendalaman menunjukkan pasokan bahan baku plastik di dalam negeri masih sangat memadai dan mampu memenuhi kebutuhan industri.
“Perlu saya sampaikan bahwa bahan baku plastik tersedia sangat memadai di industri dalam negeri. Karena itu, kita tidak perlu khawatir. Perusahaan-perusahaan yang membutuhkan plastik dapat mencarinya dari produsen dalam negeri,” katanya.
Wamen Riza menilai kondisi ini menjadi kabar positif bagi industri nasional, terutama di tengah meningkatnya permintaan dari sektor makanan dan minuman serta sektor lainnya.
Meski demikian, dia menyebut pemerintah tetap akan memastikan distribusi bahan baku berjalan lancar hingga ke sektor hilir, termasuk bagi pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) dan UMKM.
“Tugas pemerintah adalah memastikan para pelaku usaha dapat mengakses bahan baku dengan mudah dan dilayani oleh produsen dalam negeri tanpa kendala, termasuk menjaga agar harga tetap bersaing,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wamen Riza mengingatkan agar tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi global untuk menetapkan harga yang tidak wajar.
Dia juga mengimbau pelaku industri untuk tidak serta-merta bergantung pada impor dalam memenuhi kebutuhan bahan baku.
“Pemerintah mengimbau supaya perusahaan-perusahaan tetap mengedepankan produksi dalam negeri karena kemampuan produksi dalam negeri masih sangat besar.Kita lihat kalau memang nanti ada kebutuhan yang lebih besar lagi, barangkali jalur impor bisa kita pilih,” ucap Wamen Riza.