• EKSEKUTIF

Wamen LH Ingatkan Kepala Daerah Antisipasi Kebakaran TPA Akibat El Nino

Agus Mughni Muttaqin | Minggu, 05 Jul 2026 23:20 WIB
Wamen LH Ingatkan Kepala Daerah Antisipasi Kebakaran TPA Akibat El Nino Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) Diaz Hendropriyono meninjau langsung lokasi kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Sabtu (4/7/2026). (Foto: KLH)

Indonesiainfo.id - Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) Diaz Hendropriyono mengingatkan seluruh kepala daerah di Indonesia agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di tempat pemrosesan akhir (TPA) selama fenomena El Niño.

Peringatan itu disampaikan menyusul kebakaran TPA Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, yang telah berlangsung selama lima hari.

Wamen LH Diaz, saat meninjau TPA Jatiwaringin pada Sabtu (4/7), menyampaikan bahwa pemerintah pusat telah mengeluarkan surat edaran kepada pemerintah daerah sebagai langkah antisipasi menghadapi meningkatnya risiko kebakaran akibat cuaca panas ekstrem.

"Pak Menteri Jumhur sudah mengeluarkan surat edaran kepada kepala daerah untuk mengantisipasi, WMO sudah memberikan warning bahwa El Nino ini akan lebih gawat lagi, artinya kita harus antisipasi akan ada potensi kebakaran lain di TPA di seluruh Indonesia. Surat edaran ini merincikan hal-hal apa yang perlu dilakukan oleh kepala daerah di daerah masing-masing mengantisipasi El Nino," kata Diaz dikutip dari situs KLH.

Dalam peninjauannya ke TPA Jatiwaringin, Wamen Diaz menekankan bahwa keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar TPA menjadi perhatian utama pemerintah, terutama karena arah angin dapat berubah sewaktu-waktu dan membawa asap ke kawasan permukiman.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Tangerang telah menyiapkan langkah antisipasi, termasuk pemeriksaan kesehatan warga dan skenario evakuasi jika kondisi memburuk.

"Ditekankan bahwa keselamatan itu prioritas dari KLH juga. Arah angin bisa berubah setiap saat, yang saat ini ke arah timur, mungkin besok bisa ke arah barat. Masalahnya kalau angin ini ke arah barat ini banyak pemukiman. Lalu kami bicara juga dengan Pak Bupati, sudah melakukan antisipasi untuk pengecekan ISPA, penanganan pengungsian ketika arah angin nanti berubah," ujarnya.

Diaz menjelaskan kebakaran di TPA Jatiwaringin memiliki karakteristik yang mirip dengan kebakaran lahan gambut sehingga proses pemadamannya tidak mudah.

Api di bagian permukaan memang dapat terlihat padam, tetapi bara api masih dapat bertahan di lapisan bawah tumpukan sampah karena adanya gas metana (CH4) yang juga berpotensi memicu ledakan.

"Kami lihat kebakaran (di TPA Jatiwaringin, red) sudah hari ke-5 dan memang pemadaman ini bukan hal yang mudah. Karakteristiknya seperti kebakaran lahan gambut karena mungkin di atasnya sudah terlihat padam, tapi ketika lihat di bagian bawahnya masih ada apinya. Kapan saja bisa terus kebakar, ada CH4-nya, bisa ada potensi ledakan juga," ujar dia menjelaskan.

Selain fokus pada proses pemadaman, kata Diaz, KLH/BPLH juga mengingatkan masyarakat agar tidak mendekati area kebakaran karena asap berpotensi membahayakan kesehatan. Perhatian serupa diberikan kepada para pekerja dan pemulung yang beraktivitas di sekitar lokasi.

"Kami juga memberikan atensi kepada keselamatan para pekerja, para pemulung di sini, jangan sampai terkena dampaknya. Dan juga masyarakat sekitar, kami mohon agar kebakaran TPA ini tidak menjadi tontonan warga. Ini bukan hiburan, tidak perlu ada yang ditonton karena semakin warga mendekat, semakin besar kemungkinan untuk kena penyakit apa pun juga," kata Diaz.

Untuk mendukung penanganan di lapangan, KLH/BPLH telah mengerahkan berbagai upaya, mulai dari pemantauan menggunakan drone hingga pengukuran kualitas udara di sekitar lokasi kebakaran.

"Kami sudah minta dilakukan koordinasi dengan pihak bandara dan pihak TNI AU agar bisa melakukan monitoring analisa melalui drone secara berkala. Kami juga sudah deploy dua mobile monitoring system untuk memonitor beberapa hal seperti SO2, NO2, PM10, PM2.5 yang kita lihat sudah di atas baku mutu," ujar Diaz.

Ia juga mengapresiasi dukungan Kementerian Kehutanan yang mengirimkan 30 personel Manggala Agni untuk membantu proses pemadaman.

"Terima kasih juga kepada Kementerian Kehutanan yang telah membantu kami dalam memadamkan api. Mereka ahli dalam memadamkan gambut, sehingga yang serupa dengan TPA ini mungkin kurang efektif jika diairi dari atas saja, di bawahnya tetap terbakar sehingga perlu injection sampai titik di bawah," katanya.

Di sela peninjauan, Diaz memastikan program waste-to-energy (WTE) atau pengolahan sampah menjadi energi yang menjadi program prioritas Presiden tetap akan dilanjutkan.

"Terkait WTE, kami pastikan bahwa program ini masih bisa tetap berjalan, dan tanah yang dialokasikan untuk WTE agar tidak digunakan untuk hal-hal lain. Kita harus mendorong program Bapak Presiden yang sangat baik ini, tetap dijaga terus oleh bupati, demi sukseskan program Presiden," pungkasnya