
Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Golkar, Firman Soebagyo (Foto: dpr.go.id)
Jakarta, Indonesiainfo.id - Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI Firman Soebagyo mendorong pemerintah menjadikan pesantren sebagai salah satu motor penggerak ketahanan pangan nasional. Dia mengusulkan alokasi 20 persen anggaran Kementerian Pertanian untuk mendukung pemberdayaan petani santri.
Menurut Firman, pesantren tidak hanya berperan dalam membentuk karakter dan moral generasi muda, tetapi juga memiliki potensi besar untuk mengembangkan kemandirian ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian.
Momentum Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober, kata dia, perlu dimanfaatkan untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, kalangan pesantren, dan petani dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan.
“Petani memastikan kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi, sementara pesantren berperan membentuk karakter bangsa. Keduanya memiliki posisi strategis yang harus diperkuat melalui kebijakan nyata,” ujar Firman dalam keterangannya, Jumat (23/10).
Dia menilai, potensi puluhan ribu pesantren di Indonesia dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi produktif, termasuk melalui budidaya pertanian, pengembangan benih unggul, hingga pengolahan hasil panen.
Namun, upaya tersebut membutuhkan dukungan pemerintah, terutama dalam penyediaan pembiayaan, penerapan teknologi pertanian, serta pembangunan fasilitas penyimpanan dan pengolahan hasil produksi.
Firman menilai, pengembangan lumbung pangan berbasis pesantren dapat menjadi salah satu strategi memperkuat ketahanan pangan dari tingkat akar rumput. Dengan dukungan yang memadai, pesantren juga berpeluang membantu penyerapan hasil panen petani di lingkungan sekitarnya.
“Pesantren jangan hanya dipandang sebagai lembaga pendidikan agama. Ada potensi ekonomi yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan santri, petani, dan masyarakat desa,” katanya.
Selain dukungan anggaran, Firman menekankan pentingnya regenerasi petani dengan melibatkan kalangan santri. Menurutnya, sektor pertanian perlu dibuat lebih menarik bagi generasi muda melalui pemanfaatan teknologi modern.
Dia mencontohkan penggunaan drone untuk pemantauan lahan, Internet of Things (IoT) untuk mendukung pengelolaan pertanian, serta pengembangan industri pengolahan hasil pertanian agar produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah.
Dengan pendekatan tersebut, santri diharapkan tidak hanya menjadi tenaga terdidik, tetapi juga mampu tampil sebagai wirausahawan dan pelaku usaha di sektor pangan.
Firman juga melihat peluang pengembangan pasar produk pertanian dan produk halal melalui jaringan pesantren. Pasar Timur Tengah dan sejumlah negara lain dinilai dapat menjadi sasaran pengembangan ekspor apabila didukung peningkatan kualitas produk dan penguatan rantai pasok.
Di sisi lain, dia mengingatkan bahwa perubahan iklim dan ketidakpastian pasokan pangan dunia menjadi tantangan yang perlu diantisipasi sejak dini. Karena itu, kebijakan pangan nasional harus memperkuat kapasitas produksi petani kecil dan pelaku usaha berbasis komunitas, bukan semata-mata mengandalkan proyek berskala besar.
Firman menegaskan, kemandirian pangan membutuhkan keterlibatan masyarakat secara luas. Pemerintah, menurutnya, perlu memastikan petani memperoleh akses terhadap teknologi, pembiayaan, pasar, dan pendampingan yang memadai.
“Jangan sampai petani dan pesantren justru tertinggal dalam pembangunan. Kemandirian pangan harus dibangun dengan memperkuat mereka yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Firman berharap peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum untuk memperluas peran pesantren dalam pembangunan ekonomi dan pertanian nasional.
Dia optimistis, kolaborasi antara pemerintah, pesantren, dan petani dapat menjadi salah satu fondasi untuk memperkuat kedaulatan pangan sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.
TAGS : Info DPR Fraksi Golkar Firman Soebagyo Pondok Pesantren Ketahanan Pangan