Menteri Agama Ri, Nasaruddin Umar (tengah) saat mengikuti doa 80 tahun kemerdekaan Indonesia di Jakarta (Foto: kemenag)
Jakarta, Indonesiainfo.id - Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan pesan kebangsaan dalam acara Zikir dan Doa Kebangsaan 80 Tahun Indonesia Merdeka yang digelar di Taman Proklamasi, Jakarta, pada Jumat (1/8).
Acara ini menjadi momen reflektif dan spiritual dalam memperingati delapan dekade kemerdekaan Indonesia. Menag menegaskan bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya lepas dari penjajahan secara fisik, tapi juga tercapainya kesejahteraan sosial dan ketenangan spiritual rakyat.
Ia mengapresiasi arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai sejalan dengan semangat kemerdekaan, khususnya dalam pemenuhan hak dasar masyarakat.
“Program pemenuhan gizi untuk anak dan ibu hamil, serta perluasan akses pendidikan lewat Sekolah Rakyat dan Pendidikan Garuda merupakan kelanjutan dari cita-cita kemerdekaan,” ujar Menag.
Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh nasional, seperti Menko PMK Pratikno, Menteri PPPA Arifah Choiri Fauzi, Wamen Setneg Juri Ardiantoro, Wamen Kependudukan Ratu Ayu Isyana, Ketua MUI KH Anwar Iskandar, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, serta para pejabat Kementerian Agama dan tokoh lintas agama.
Dalam sambutannya, Menag menyoroti keistimewaan Indonesia sebagai bangsa yang mampu memelihara persatuan dalam keragaman. Ia menyebut keberagaman bukan ancaman, tapi kekuatan yang harus dijaga dalam semangat kemerdekaan.
“Tak banyak negara yang bisa seperti Indonesia—berdiri teguh dalam keberagaman yang sangat kompleks. Ini adalah modal sosial yang luar biasa,” ujarnya.
Menag juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus memperkuat harmoni antarumat beragama dan menumbuhkan rasa kebangsaan yang dilandasi nilai-nilai spiritual dan solidaritas sosial.
“Di hadapan para tokoh lintas iman, mari kita doakan bangsa ini agar senantiasa diberi keberkahan dan kekuatan dalam menjaga kemerdekaan yang hakiki,” tutupnya.
Acara ditutup dengan doa lintas agama yang dipimpin secara bergantian oleh para pemuka dari enam agama resmi di Indonesia: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Sebuah simbol kuat bahwa perbedaan adalah bagian dari kekuatan bangsa.